Allya Siska Nadya

Allya Siska Nadya, yang memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan S2 di Paris, mengalami kejadian tragis di Klinik Chiropratic First, Cabang Pondok Indah Mall (PIM 1), Jakarta Selatan. Ayahnya, Alfian Helmy Hasjim, yang merupakan mantan Wakil Presiden Komunikasi PT PLN (Persero), dan ibunya, Arnisda Helmy, sangat terpukul dengan kejadian ini. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa putri bungsu mereka akan mengalami nasib yang tragis.

Allya, yang lahir pada tanggal 28 Desember 1982, telah meraih gelar Bachelor of Creative Industries (Media and Communication) dari Queensland University of Technology, Brisbane, Australia. Setelah bekerja beberapa tahun di Jakarta, pada tanggal 18 Agustus 2015, Allya seharusnya terbang ke Paris untuk melanjutkan program MBA di Edhec Business School Lille di Roubaix cedex, sebuah kota kecil di perbatasan Prancis dan Belgia. Namun, semua rencana itu tidak terlaksana karena ia meninggal beberapa jam setelah menjalani perawatan terapi.

Allya, putri kedua orang tua yang sangat menyayanginya, ingin menjaga kondisi kesehatannya selama dia tinggal di Perancis agar bisa fokus belajar. Namun, belakangan Allya beberapa kali mengeluh merasa pegal di bagian otot lehernya. Ayahnya, Alfian Helmy, mengungkapkan hal ini.

Allya biasanya menghabiskan sekitar delapan jam setiap hari di depan komputer karena pekerjaannya. Ayahnya mengatakan bahwa Allya merupakan pekerja keras dan sangat menyukai pekerjaannya.

Beberapa waktu sebelumnya, pada tanggal 14 Juli 2014, Allya telah melakukan pemeriksaan medis di RS Pondok Indah, Jakarta, dengan dr Ferdynand Zaron sebagai dokter yang menanganinya.

Setelah itu, hari dan bulan terus berlalu. Mendekati tiga minggu sebelum keberangkatan ke Paris, Allya diajak oleh pamannya untuk mencoba terapi di Chiropratic First. Klinik ini sangat terkenal karena menawarkan terapi tanpa operasi yang dapat mengembalikan fungsi tubuh dengan menghilangkan gangguan pada sistem syaraf dan struktur tubuh, serta memperbaiki fungsi mekanik tubuh. Klinik ini tersebar di beberapa daerah elit di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Selain itu, klinik ini juga memiliki cabang di China, Singapura, dan Malaysia dengan dokter terapi yang berasal dari berbagai negara.

Pada tanggal 5 Agustus 2015, Allya melakukan konsultasi dengan Dr Randall Cafferty, seorang praktisi Chiropratic dari Amerika Serikat, untuk pertama kalinya. Setelah melakukan wawancara dan mengisi formulir pengetahuan tentang Chiropratic serta masalah yang dihadapinya, pada tanggal 6 Agustus, Allya kembali ke klinik tersebut. Dia membayar Rp17 juta untuk pembayaran Therapy Adjustment sebanyak 40 kali sesuai dengan rekomendasi Dr Randall Cafferty. Alfian Helmy mengungkapkan bahwa terapi dilakukan setelah pembayaran lunas.

Arnisda Helmy, yang juga ikut mengantar Allya ke ruang terapi, menjelaskan bahwa salah satu metode terapi yang dilakukan adalah meminta Allya berbaring tengkurap di ranjang. Kemudian, sang terapis menggerakkan kepala Allya ke kanan dan kiri beberapa kali, hingga terdengar suara “kreeek” pada tulang lehernya.

Ketika Allya pulang ke rumahnya di Bintaro, dia tidak merasa apa-apa. Namun, begitu dia tiba di rumah sekitar pukul 23.00 malam, dia merasa sangat sakit di lehernya dan berteriak kesakitan.

Ayahnya panik dan segera membawa Allya ke ICU RS Pondok Indah di tengah malam. Dia ditangani oleh Dr Fahreza Aditya Neldy untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Namun, takdir telah memanggil Allya. Dia meninggal tepat pukul 06.15 pagi ketika matahari mulai bersinar.

Dalam rilisnya yang ditandatangani oleh Widodo Heru, Manajer Operasional Kantor PT Chiropractic First Indonesia, klinik tersebut menjelaskan kronologi kejadian sebagai berikut:

Menurut rilis Chiropractic First, pada tanggal 5 Agustus 2015, almarhumah Allya Siska Nadya datang ke cabang Mal Pondok Indah 1, Jakarta Selatan untuk berkonsultasi dan mendapatkan perawatan. Namun, pemeriksaan dan pendaftaran baru dilakukan pada tanggal 6 Agustus.

Berdasarkan foto X-ray yang diberikan oleh almarhumah, diketahui bahwa terdapat kelainan bawaan pada tulang leher karena vertebra tidak terbentuk dengan sempurna sejak lahir. Akibatnya, tulang leher tersebut mengalami pembengkokan ke depan.

Dari catatan medis, Saudari Allya memiliki tekanan darah tinggi dan pernah menderita demam berdarah. Namun, saat kunjungannya, ia mengeluhkan sakit leher berat yang kronis, sakit pinggang, pundak yang sangat kaku, dan telinga berdenging.

Dalam kunjungan pertamanya ke cabang, ia diperiksa oleh Randall Cafferty, seorang chiropractor dengan lisensi dari Amerika Serikat. Cafferty melakukan manipulasi tulang belakang secara standar yang membuatnya merasa lebih baik, dan kemudian ia kembali pada hari berikutnya, yaitu 6 Agustus 2015, untuk perawatan kedua pada siang hari. Setelah menjalani perawatan, ia tidak mengeluhkan keluhan apapun.

Namun, karena ia harus segera pergi ke Paris, ia meminta perawatan ketiga pada malam hari yang sama. Saat ia meninggalkan cabang, Saudari Allya tidak mengeluhkan sakit atau gejala apapun, dan pergi dari klinik dengan berjalan kaki seperti biasa didampingi oleh keluarganya.

Sayangnya, pada tengah malam tanggal 6 Agustus 2015, ia merasakan nyeri hebat dan harus masuk rumah sakit hingga ia meninggal pada pagi hari tanggal 7 Agustus 2015.

Chiropractic First menyatakan bahwa mereka bersedia melakukan perawatan bagi pelanggan yang memiliki cacat bawaan pada tulang leher, berdasarkan penilaian dari chiropractor yang bersangkutan. Dengan perawatan yang tepat dan menghindari bagian yang mengalami kelainan, belum pernah ada pelanggan yang mengeluhkan masalah setelah perawatan dari chiropractor.

Namun, penyebab kematian secara pasti baru dapat diketahui setelah pelaksanaan otopsi. Oleh karena itu, Chiropractic First telah menjalin kerjasama dengan pihak berwajib untuk melakukan investigasi sejak November 2015. Saat ini, mereka masih mencari keberadaan Randall Cafferty dan akan berusaha meyakinkannya untuk kembali ke Indonesia agar dapat membantu kepolisian dalam proses penyelidikan dan penegakan hukum.