Beberapa waktu lalu, saya mendengar sekelompok orang berbincang di sebuah warung kopi. Salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya, “Agamamu apa?” Temannya menjawab sambil tersenyum, lalu percakapan bergulir ke arah diskusi identitas. Saya mendengarkan dengan setengah perhatian, tapi di kepala saya mulai muncul pertanyaan: Mengapa sih, kita sering bertanya seperti itu? Apa sebenarnya tujuan di balik pertanyaan ini? Apakah benar-benar penting?
Pertanyaan ‘apa agamamu’ membuat saya berpikir bahwa agama sebagai identitas sering kali dibesar-besarkan. Orang lebih sering tertarik pada “label” dibandingkan memahami inti dari ajaran agama itu sendiri. Kita tahu, agama mengajarkan nilai-nilai mulia seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, dan kesadaran. Tapi kenapa yang lebih sering muncul dalam percakapan adalah soal “agama” sebagai kelompok atau lembaga? Bukankah fokus kita seharusnya pada bagaimana kita menjalankan nilai-nilai itu dalam hidup?
Coba pikirkan, berapa kali kita mendengar percakapan yang berujung pada stereotip hanya karena seseorang menyebut agama mereka? “Oh, dia Muslim, pasti begini.” Atau, “Dia Kristen, jadi pasti begitu.” Padahal, identitas itu tidak pernah cukup untuk menjelaskan siapa seseorang sebenarnya. Identitas agama hanya menyentuh permukaan, sementara nilai-nilai yang mereka jalani adalah hal yang lebih penting dan mendalam.
Agama sebagai lembaga memang sering menjadi penanda sosial, alat untuk menunjukkan “siapa kita” di tengah masyarakat. Tapi apa artinya itu kalau nilai-nilai yang diajarkan tidak dijalankan? Sejujurnya, saya merasa identitas agama tidak lebih dari stiker di depan kaca mobil. Orang bisa melihatnya, menilainya, bahkan mungkin mengomentarinya, tapi apa stiker itu benar-benar mencerminkan ke mana mobil itu pergi?
Saya percaya, agama pada intinya adalah tentang bagaimana kita menjalani hidup. Semua agama mengajarkan hal-hal yang luar biasa indah: mencintai sesama, berlaku adil, bersikap rendah hati, dan menemukan kedamaian dalam diri. Tapi ironisnya, fokus pada identitas sering kali justru membuat kita lupa pada esensi itu sendiri.
Misalnya, saya pernah bertemu dengan seseorang yang dengan tegas menyebut dirinya “beragama,” tapi dalam tindakan sehari-hari, ia sering berlaku kasar kepada orang lain. Di sisi lain, saya kenal seseorang yang tidak suka menyebut identitas agamanya, tapi selalu menunjukkan empati, membantu orang yang membutuhkan, dan hidup dengan penuh integritas. Mana yang lebih mencerminkan nilai agama? Saya rasa kita semua tahu jawabannya.
Pertanyaan seperti “Apa agamamu?” sering muncul dalam percakapan sehari-hari, seolah itu adalah hal yang penting untuk diketahui. Tapi kalau kita jujur, apakah jawaban atas pertanyaan itu benar-benar mengubah cara kita memandang seseorang? Atau, lebih sering, itu justru menjadi awal dari pengkotak-kotakan?
Tidak semua orang merasa nyaman menjawab pertanyaan ini, dan sebenarnya mereka tidak perlu menjawabnya. Tidak ada urgensinya. Kalau tujuan bertanya adalah untuk lebih mengenal seseorang, bukankah lebih baik kita bertanya hal-hal yang lebih bermakna? “Apa yang paling kamu hargai dalam hidup?” atau “Apa nilai yang selalu kamu pegang?” Itu pertanyaan yang mengundang dialog, bukan sekadar menempelkan label.
Ketika agama lebih dilihat sebagai identitas, kita sering kehilangan peluang untuk benar-benar memahami satu sama lain. Identitas itu bisa menjadi tembok, sesuatu yang memisahkan “kami” dan “mereka.” Dalam dunia yang penuh perbedaan, bukankah kita seharusnya mencari hal-hal yang menyatukan, bukan yang memisahkan?
Saya teringat sebuah kutipan yang pernah saya baca: “Agama adalah jendela, bukan tembok.” Artinya, agama seharusnya membantu kita melihat dunia dengan cara yang lebih luas, lebih bijak, bukan membatasi pandangan kita. Tapi jika agama hanya dilihat sebagai identitas, maka jendela itu bisa berubah menjadi tembok yang membuat kita terkurung dalam ruang sempit.
Saya sendiri tidak terlalu suka menjawab pertanyaan “Agamamu apa?” Bukan karena saya tidak punya jawaban, tapi karena saya merasa itu bukan hal yang penting. Yang lebih penting adalah bagaimana saya menjalani hidup saya: apakah saya sudah cukup mencintai sesama? Apakah saya berlaku adil? Apakah saya menjaga hubungan yang baik dengan alam dan manusia di sekitar saya?
Saya percaya, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik jika kita lebih fokus pada nilai-nilai daripada identitas. Bayangkan jika setiap orang berusaha menjalankan cinta kasih, pengampunan, dan kesadaran tanpa terlalu peduli pada label mereka. Bukankah itu esensi dari spiritualitas?
Jadi, daripada bertanya “Apa agamamu?” mengapa kita tidak mencoba pertanyaan yang lebih dalam dan bermakna? Misalnya, “Apa nilai-nilai yang paling penting bagimu?” atau “Apa yang menjadi panduan hidupmu?” Pertanyaan seperti ini tidak hanya menghindari pengkotak-kotakan, tetapi juga membuka ruang untuk saling belajar dan memahami.
Dengan cara ini, kita bisa menciptakan dialog yang lebih tulus, yang benar-benar memperkaya. Bukankah itu yang kita butuhkan? Dunia ini terlalu kaya akan keragaman untuk kita persempit hanya dengan label-label identitas. Saatnya kita membuka hati, mendengar, dan memahami satu sama lain di tingkat yang lebih mendalam.

