Atheisme sering disalahpahami sebagai kepercayaan atau agama. Namun, jika kita melihat bahwa definisi keimanan adalah keyakinan yang diterima tanpa bukti empiris atau material yang substantif, maka atheisme tidak masuk dalam kategori ini. Atheisme adalah cara pandang yang berbasis pada skeptisisme, bukan sebagai bentuk keimanan atau agama.
Keimanan sering dikaitkan dengan penerimaan klaim tanpa bukti empiris yang mendukung. Sebaliknya, atheisme berakar pada ketiadaan kepercayaan terhadap entitas supernatural atau Tuhan, karena kurangnya bukti empiris. Atheisme tidak menuntut penerimaan tanpa bukti; melainkan, menolak klaim teistik karena bukti yang ada dianggap tidak memadai. Dalam konteks ini, atheisme berfungsi lebih sebagai filter kritis daripada sebagai doktrin yang harus diikuti.
Mengingat atheisme tidak didasarkan pada sistem kepercayaan yang diwariskan atau serangkaian praktik ritual, ia tidak memenuhi kriteria sebagai agama. Atheisme tidak memiliki dogma, ritual, atau institusi yang terstruktur seperti yang ditemukan dalam agama-agama. Sebaliknya, atheisme adalah cara pandang yang mendorong penilaian dan penyelidikan tentang sebuah klaim keimanan berdasarkan metode ilmiah dan bukti yang dapat diverifikasi.
Skeptisisme adalah inti dari pendekatan atheis. Atheisme menerapkan skeptisisme terhadap klaim teistik yang mengatakan ada entitas yang lebih tinggi atau Tuhan, tanpa bukti yang dapat diobservasi atau diuji. Hal ini mencerminkan komitmen atheis terhadap pendekatan empiris dalam memahami alam semesta, yang menolak penjelasan supernatural yang tidak didukung oleh bukti yang solid.
Menanyakan apakah ada yang salah dengan atheisme serupa dengan menanyakan apakah ada yang salah dengan meminta bukti sebelum menerima klaim. Kritik terhadap atheisme sering kali berasal dari agama atau pribadi yang merasa kekurangan dalam logika atau rasionalitas. Dalam masyarakat yang mendasarkan banyak praktik sosial dan moralnya pada agama, atheisme bisa dilihat sebagai kontraproduktif atau malah mengancam. Namun, dalam kerangka pemikiran ilmiah dan skeptis, atheisme adalah respons yang logis terhadap kurangnya bukti yang konklusif untuk klaim agama tentang supernatural.
Atheisme, yang sering disalahartikan sebagai bentuk kepercayaan atau agama, sebenarnya adalah perspektif yang didasarkan pada skeptisisme dan penelitian empiris. Sebagai sebuah cara pandang, atheisme mendorong pertanyaan dan pemeriksaan kritis terhadap klaim tanpa bukti. Sementara atheisme bisa kontroversial dalam konteks sosial yang lebih luas, tidak ada yang secara inheren salah dengan pendekatan yang menuntut bukti sebelum penerimaan. Ini adalah prinsip dasar metode ilmiah, yang merupakan fondasi dari kemajuan pengetahuan manusia.

