Ada yang menulis bahwa fakta dalam hidup manusia terbagi ke dalam empat jenis: fakta empiris yang bisa diindra dan diukur seperti air mendidih pada seratus derajat, fakta rasional yang pasti lewat akal seperti 2+2=4 dan mustahilnya kontradiksi, fakta historis yang diterima lewat dokumen dan kesaksian seperti keberadaan Julius Caesar atau Nabi Muhammad, dan fakta fenomenologis-universal yang dialami semua orang seperti kesadaran dan rasa benar-salah. Lalu, dari keempat jenis fakta itu, diselipkan klaim bahwa keberadaan Tuhan termasuk salah satunya. Seolah-olah, cukup dengan empat kategori itu, keberadaan Tuhan otomatis naik kelas menjadi “fakta”.
Sekilas argumen itu terdengar rapi, seperti kotak-kotak yang tersusun rapi di rak filsafat. Tetapi ketika saya menyelaminya lebih lama, retakan logikanya terlihat jelas. Ia seperti bangunan indah dari jauh, namun ketika saya mendekat, catnya mengelupas dan kayunya lapuk. Mengapa? Karena masing-masing kategori yang disebut sebenarnya memiliki kriteria verifikasi yang berbeda, dan klaim tentang Tuhan tidak memenuhi syarat di dalamnya.
Ambil contoh pertama: fakta empiris. Fakta ini berdiri di atas landasan pengamatan dan pengukuran yang dapat diulang dan diverifikasi oleh siapa saja. Air mendidih di seratus derajat pada tekanan satu atmosfer, gravitasi bumi menarik benda ke bawah, cahaya merambat dengan kecepatan tertentu. Kita tidak harus menyentuh gelombang cahaya, tetapi kita bisa mengukur kecepatannya, mengamati efeknya, dan mendapatkan hasil yang sama jika percobaan diulang. Untuk mengklaim Tuhan sebagai fakta empiris, mestinya ada efek yang dapat diamati secara publik dan diuji berkali-kali dengan hasil konsisten. Tidak ada satu pun metode ilmiah yang bisa mengukur Tuhan seperti kita mengukur tekanan udara atau menimbang partikel subatom. Menempatkan Tuhan dalam kategori empiris adalah kesalahan kategori: memasukkan sesuatu ke dalam kotak yang bukan peruntukannya.
Kategori kedua adalah fakta rasional. Di sini kita berbicara tentang kebenaran yang pasti melalui akal, seperti 2+2=4 atau “tidak mungkin A dan bukan-A benar pada saat yang sama dalam pengertian yang sama.” Ini wilayah logika dan matematika, tempat di mana kebenaran bersifat niscaya, tidak bergantung pada dunia fisik. Klaim “Tuhan ada” bukanlah proposisi yang bisa dibuktikan benar dengan cara yang sama seperti kita membuktikan bahwa segitiga memiliki tiga sisi. Tidak ada rumus logika yang menjadikan eksistensi Tuhan setara dengan aksioma matematika. Menyamakan keberadaan Tuhan dengan kepastian logis adalah lompatan yang tidak berdasar, sebuah false equivalence yang menyesatkan.
Lanjut ke fakta historis. Kita percaya Julius Caesar pernah hidup karena ada dokumen, prasasti, catatan perang, dan kesaksian dari berbagai sumber yang dapat saling memeriksa. Bukti-bukti itu menunjukkan bahwa seseorang bernama Julius Caesar memang menjejak bumi ini. Tetapi kesaksian tentang Tuhan—apakah melalui kitab suci atau pengalaman mistik—hanya membuktikan bahwa manusia pernah menulis dan percaya tentang Tuhan, bukan bahwa Tuhan sebagai entitas transenden benar-benar ada. Dokumen dan kesaksian adalah bukti bahwa keyakinan itu pernah hidup, bukan bukti keberadaan objek keyakinan itu sendiri. Sama seperti catatan kuno tentang Zeus atau Ra tidak membuktikan bahwa para dewa Olimpus atau dewa matahari Mesir benar-benar ada, melainkan bahwa orang-orang pada masa itu mempercayainya.
Kategori keempat adalah fakta fenomenologis-universal: kesadaran, rasa benar-salah, pengalaman batin yang dialami luas dan konsisten. Memang benar, hampir semua manusia mengalami kesadaran diri dan memiliki intuisi moral. Tetapi mengaitkan pengalaman universal ini dengan keberadaan Tuhan adalah lompatan kesimpulan yang tidak sah. Evolusi, biologi otak, dan dinamika sosial memberikan banyak penjelasan mengapa manusia memiliki kesadaran dan moralitas. Dari fakta bahwa kita merasa ada yang benar dan salah, tidak otomatis lahir kesimpulan bahwa Tuhan ada. Ini seperti menemukan bahwa semua orang bermimpi dan lalu berkata, “karena semua orang bermimpi, berarti alam mimpi itu dunia nyata yang otonom.” Pengalaman adalah fakta, tetapi sumbernya tetap perlu dijelaskan, dan “Tuhan” tidak otomatis menjadi jawabannya.
Keempat kategori yang disusun itu akhirnya tidak lebih dari susunan pengetahuan saja. Di setiap pengetahuan, klaim tentang Tuhan dimasukkan begitu saja, padahal kriterianya berbeda. Akibatnya, kesimpulan tentang; “maka Tuhan adalah fakta” menjadi kesimpulan yang tidak mengikuti premis. Memang, orang dapat beriman, berharap, atau mengalami sesuatu yang mereka tafsir sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Tetapi itu berbeda dari mengatakan bahwa keberadaan Tuhan terbukti sebagai fakta setara dengan titik didih air atau teorema matematika.
Yang membuat saya terusik bukan karena orang percaya pada Tuhan, tetapi karena permainan kata “fakta” digunakan untuk menutup diskusi, seolah-olah siapa pun yang bertanya sudah kalah sebelum bicara. Padahal, justru keberanian untuk menanyakan, menguji, dan menyadari perbedaan kategori eksistensi adalah inti dari berpikir jernih. Fakta empiris mengandalkan pengamatan, fakta rasional mengandalkan logika, fakta historis mengandalkan dokumen, fakta fenomenologis mengandalkan pengalaman bersama. Keberadaan Tuhan, sebagaimana biasanya didefinisikan sebagai yang transenden, melampaui ruang dan waktu, ini tidak cocok ke dalam salah satu dari empat kategori itu tanpa memelintir makna kata “fakta”.
Saya tidak menolak pengalaman spiritual orang lain. Saya hanya menolak lompatan logika yang menyamakan kesaksian atau perasaan dengan verifikasi objektif. Jika seseorang merasakan kehadiran Tuhan dalam doa, itu adalah fakta tentang pengalaman orang itu, bukan fakta tentang entitas Tuhan di luar dirinya. Jika jutaan orang selama ribuan tahun menulis tentang Tuhan, itu adalah fakta sejarah tentang keyakinan, bukan fakta ontologis tentang keberadaan Tuhan itu sendiri.
Mengakui perbedaan ini bukanlah sikap dingin atau sinis. Justru di sanalah saya menemukan kejujuran intelektual. Saya boleh kagum pada misteri semesta, boleh tergetar oleh harmoni alam, boleh larut dalam rasa takjub yang membuat kata “suci” terlintas. Tetapi saya tetap tahu bahwa kekaguman saya bukan verifikasi empiris. Kata “fakta” memerlukan standar yang ketat: yaitu dapat diamati, diukur, diuji secara publik. Menggunakan kata itu untuk menjustifikasi keberadaan Tuhan hanya melemahkan kata “fakta” itu sendiri.
Mungkin bagi sebagian orang, membedakan jenis fakta ini terasa kaku. Tetapi bagi saya, ketelitian adalah bentuk penghormatan terhadap iman. Jika kita mencintai kebenaran, kita mesti menjaga makna kata “fakta” agar tidak menjadi jaring yang menampung apa saja. Fakta bukan sekadar apa yang kita yakini, tetapi apa yang dapat dipertanggungjawabkan dengan metode yang sesuai ranahnya. Ketika kata “fakta” dipakai untuk menegakkan klaim tentang Tuhan tanpa memenuhi standar itu, argumen itu runtuh oleh kontradiksi yang ia ciptakan sendiri.
Jadi ketika seseorang menulis tentang empat jenis fakta dan menyelipkan Tuhan di dalamnya, saya melihat bukan pembuktian, melainkan sebuah langkah retoris: yaitu upaya mengangkat keyakinan ke status sains, logika, sejarah, dan pengalaman universal tanpa memenuhi tuntutan masing-masing ranah. Saya memilih tetap jujur: bahwa pengalaman, rasa kagum, atau kesadaran tidak otomatis menjadikan Tuhan sebuah fakta. Itu tetap wilayah keyakinan, dan keyakinan tidak perlu disulap menjadi fakta agar bernilai bagi pemeluknya. Justru ketika perbedaan itu diakui, percakapan tentang iman dan nalar bisa berjalan lebih jernih, tanpa ilusi kemenangan palsu.

