Belajar Agama Justru Membuat Saya Tidak Beragama

Seseorang pernah bertanya: “Kenapa kamu tidak beragama?”

Jawaban saya sederhana: “Karena saya belajar agama.”

Kedengarannya ironis, bahkan provokatif. Tapi sebenarnya maksudnya tidak sesederhana itu. “Tidak beragama” di sini bukan berarti hidup sembarangan, tidak bermoral, atau bebas tanpa arah. Sebaliknya, bagi saya, tidak beragama berarti tidak terikat secara formal dengan lembaga agama manapun, namun tetap memilih hidup dengan integritas, tanggung jawab, dan kesadaran penuh sebagai manusia.

Ketika saya benar-benar belajar—membaca teks suci, menelusuri sejarah, mengkaji tafsir—saya menemukan bahwa agama tidak sesederhana slogan yang sering kita dengar. Ada ajaran tentang cinta, tapi ada pula cerita tentang kekerasan. Ada janji keadilan, tapi ada pula praktik yang melestarikan ketidakadilan.

Semakin saya mendalami, semakin saya sadar bahwa beragama dalam bentuk institusional sering kali berbeda jauh dari pesan moral yang sesungguhnya. Dan pada titik itu, saya memilih untuk tidak beragama—bukan karena menolak nilai kebaikan, tetapi justru karena ingin merawat nilai itu tanpa harus terikat label dan institusi.

Banyak orang salah paham: ketika seseorang berkata “saya tidak beragama”, mereka langsung membayangkan hidup tanpa aturan, tanpa etika, tanpa arah. Padahal tidak demikian.

Bagi saya, tidak beragama justru berarti:

  • Saya tidak menyerahkan otoritas moral hidup saya pada lembaga atau institusi.
  • Saya tidak tunduk pada dogma yang sering kali lebih melayani kepentingan kuasa daripada nurani.
  • Saya memilih jalan hidup di mana integritas pribadi dan tanggung jawab sosial menjadi kompas utama.

Dengan kata lain: tidak beragama bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk memikul tanggung jawab penuh atas hidup saya sendiri.

Apa gunanya mengaku beragama, bila tetap korupsi? Apa gunanya punya simbol suci, bila di lingkungan sendiri gagal menghormati orang lain atau menelantarkan mereka yang membutuhkan bantuan?

Bagi saya, moralitas sejati bukan berasal dari label agama, tetapi dari integritas—kesatuan antara kata dan tindakan.

Itulah mengapa saya menolak memisahkan kehidupan pribadi dari kehidupan publik. Ajaran hanya bermakna bila nyata dalam laku sehari-hari. Jika tidak, semua hanya jadi retorika kosong.

Jika kita menoleh ke berbagai belahan dunia, kita bisa menemukan contoh bahwa moralitas tidak selalu lahir dari lembaga agama. Negara-negara Nordik—Swedia, Norwegia, Denmark—sering disebut sebagai masyarakat paling sekuler di dunia. Tingkat religiositas mereka rendah, bahkan banyak warga yang secara resmi menyatakan diri “tidak beragama”. Namun, justru di sana angka korupsi rendah, tingkat kepercayaan sosial tinggi, pendidikan dan kesehatan terjamin, serta kualitas hidup warganya termasuk yang terbaik.

Sebaliknya, ada juga masyarakat yang sangat religius, dengan simbol-simbol keagamaan yang kuat, namun tetap bergelut dengan korupsi, intoleransi, kekerasan, bahkan kemiskinan struktural. Apakah ini berarti agama gagal? Tidak sesederhana itu. Tapi setidaknya memberi pelajaran: moralitas tidak otomatis sejalan dengan tingkat religiositas.

Moralitas bisa lahir dari kesadaran manusia akan tanggung jawabnya terhadap sesama, bukan semata-mata karena aturan lembaga keagamaan.

Friedrich Nietzsche pernah berkata: “Tuhan sudah mati.” Banyak orang salah paham dengan pernyataan itu. Yang ia maksud bukanlah Tuhan secara literal, tetapi runtuhnya otoritas agama dalam kehidupan modern. Nietzsche melihat manusia harus berani menemukan makna hidupnya sendiri, tanpa bergantung pada institusi yang sering kali memanipulasi ketakutan dan memberi janji ilusi.

Sebaliknya, Søren Kierkegaard justru menekankan pentingnya “lompatan iman”. Baginya, manusia akan selalu berhadapan dengan absurditas, dan pada titik itu iman menjadi pilihan eksistensial. Namun iman di sini bukan sekadar mengikuti dogma, melainkan keberanian individu untuk menghadapi ketidakpastian hidup dengan sungguh-sungguh.

Dan jika kita menengok pemikir lokal seperti Tan Malaka, ia menekankan rasionalitas di atas mistika. Baginya, bangsa hanya bisa merdeka jika warganya berpikir jernih, bebas dari belenggu mitos yang membius.

Dari tiga arah ini, saya belajar bahwa menjadi “tidak beragama” bukan berarti nihil, melainkan ruang untuk mencari makna dengan lebih jujur: lewat nalar, pengalaman, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Akhirnya, belajar agama membawa saya pada kesimpulan yang mungkin terdengar aneh: belajar agama justru membuat saya tidak beragama.

Karena bagi saya, tidak beragama bukanlah penolakan terhadap nilai kebaikan. Ia adalah sikap untuk hidup jujur, adil, dan bertanggung jawab tanpa harus terafiliasi pada lembaga apapun. Tidak beragama adalah kebebasan untuk menapaki hidup dengan kepala tegak, memikul konsekuensi pilihan, dan menjaga integritas tanpa perlu label di KTP atau pengakuan dari otoritas.

Dan mungkin saja, dalam dunia yang penuh kepura-puraan, sikap ini justru bentuk keberagamaan yang paling tulus.

Jadi pertanyaannya, bagi kita semua: Apakah lebih penting berlabel agama, ataukah hidup dengan integritas?