Ada satu kalimat yang sering diucapkan dengan penuh percaya diri di dunia spiritual modern. Kalimatnya begini: Manusia adalah makhluk spiritual yang terperangkap dalam tubuh. Kalimat itu terdengar indah, puitis dan menenangkan. Ia memberi rasa bahwa diri kita ini lebih mulia daripada kehidupan manusia biasa, seakan-akan kita adalah roh agung yang sedang menjalani hukuman sementara di dimensi fisik. Tetapi di balik keindahannya, kalimat itu menyimpan jebakan yang membuat manusia menjauh dari kenyataan hidup. Aku ingin mengajakmu melihatnya secara jernih, tanpa selimut kata-kata manis yang sering membuat kita terbuai.
Kalimat bahwa kita adalah makhluk spiritual yang terjebak di tubuh membangun ilusi bahwa tubuh ini bukan bagian dari kita. Padahal seluruh pengalaman yang kamu sebut hidup terjadi melalui tubuh. Tanpa tubuh, kamu tidak bisa merasakan hangatnya pelukan, pahitnya kecewa, tawa bersama teman, ataupun rasa takut ketika kehilangan. Tubuh bukan penjara. Tubuh adalah pintu masuk pengalaman. Ketika seseorang berkata bahwa dirinya adalah roh yang hanya menumpang di tubuh, ia sedang menciptakan jarak dari realitas dirinya sendiri. Ia mencabut akar pengalaman manusia dari bumi tempat ia berpijak.
Laku Jiwo tidak mengajarkan pelarian dari hidup. Laku Jiwo justru mengajak kita hadir sepenuhnya dalam hidup. Kalau kamu percaya bahwa kamu adalah makhluk spiritual yang sedang terjebak di tubuh, maka kamu akan terus mencari jalan keluar dari hidup, bukan jalan masuk ke dalam hidup. Di sinilah masalah dimulai. Banyak orang mengaku sedang berjalan di jalur spiritual, tetapi sesungguhnya mereka sedang melarikan diri dari diri sendiri. Mereka ingin melompat ke langit, padahal mereka belum pernah benar-benar menjejak bumi. Mereka ingin tercerahkan, tetapi tidak sanggup menata hidup sehari-hari.
Mari kita jujur dengan pengalaman paling sederhana. Kamu hanya bisa merasakan apa pun selama otakmu bekerja. Ketika otak tertidur nyenyak tanpa mimpi, pengalaman hilang. Ketika seseorang dibius total, kesadaran lenyap seolah tidak pernah ada. Saat otak mati, tidak ada lagi pengalaman yang berlangsung. Kalau begitu, apa dasar klaim bahwa ada “aku spiritual” yang terpisah dari otak dan tetap hidup setelahnya. Banyak orang tidak menyadari bahwa gagasan tentang roh yang terjebak di tubuh lebih banyak dibentuk oleh cerita, ajaran turun-temurun, dan keinginan untuk hidup abadi, bukan oleh kejujuran terhadap pengalaman langsung.
Aku bukan sedang meminta kamu meninggalkan keyakinan atau agamamu. Yang aku minta hanya satu, yaitu jujurlah pada apa yang benar-benar kamu alami. Semua pengalamanmu, dari yang paling remeh sampai yang paling sakral, terjadi melalui otak. Kamu bisa menolak fakta ini, tetapi hidup tetap menunjukkan hal yang sama. Kesadaran muncul selagi otak hidup. Dan ketika otak berhenti bekerja, pengalaman berhenti. Ini bukan teori metafisik. Ini adalah kenyataan yang bisa diuji dalam pengalaman sehari-hari.
Menganggap diri sebagai makhluk spiritual yang sedang terjebak justru membuat manusia kehilangan keberanian untuk menghadapi hidup. Ketika hidup terasa berat, orang mudah berkata: “Tubuh ini hanya sementara, aku bukan bagian dari dunia ini.” Pernyataan itu terdengar luhur, tetapi sebenarnya itu cara halus untuk menghindari tanggung jawab dan rasa sakit sebagai manusia. Padahal rasa sakit itu bagian dari hidup. Tanpa rasa sakit, kamu tidak bisa belajar. Tanpa kekecewaan, kamu tidak bisa tumbuh. Tanpa jatuh, kamu tidak bisa mengenali dirimu.
Manusia bukan makhluk spiritual yang turun dari langit atau ditiupkan oleh apa yang disebut Tuhan lalu tersesat di tubuh. Manusia adalah kesadaran yang muncul di dalam tubuh yang hidup. Pengalaman manusia bukan degradasi roh, melainkan fenomena biologis yang memungkinkan kesadaran menyadari dirinya melalui hidup. Mengapa banyak orang sulit menerima ini. Karena dengan menerima bahwa tidak ada roh yang terjebak, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa hidup terjadi sekarang, dan tidak ada ruang untuk bersembunyi dari kehidupan. Mereka harus benar-benar hidup, bukan sekadar menunggu saat pulang ke alam “asli” yang mereka yakini.
Aku tahu kalimat ini mungkin terdengar keras bagi sebagian orang, tetapi justru di sinilah kebebasan muncul. Ketika kamu berhenti percaya bahwa kamu terperangkap, kamu berhenti ingin melarikan diri.
Kamu mulai hadir. Kamu mulai hidup. Kamu berhenti memandang tubuh sebagai penghalang, dan mulai melihatnya sebagai sahabat perjalanan. Semua rasa, semua pikiran, semua jatuh bangun yang kamu alami bukan gangguan spiritual, tetapi bagian dari kesadaran yang sedang belajar melalui pengalaman manusia.
Banyak yang berkata bahwa manusia harus “naik level spiritual” agar bebas dari tubuh. Tetapi bukankah penyadaran yang sesungguhnya justru terjadi ketika kamu memahami dirimu di sini dan sekarang? Bukan dengan menolak tubuh, tetapi dengan mengenali pola pikir, rasa, dan pengalaman yang muncul melalui tubuh. Kamu tidak bisa menemukan dirimu dengan menjauh dari hidup. Kamu hanya bisa menemukannya dengan masuk ke hidup, menyelaminya, dan mengalaminya apa adanya.
Aku menulis ini karena aku melihat banyak orang menderita bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena mereka memegang cerita yang tidak selaras dengan kenyataan hidup. Ketika kamu percaya bahwa kamu adalah roh yang terperangkap, kamu akan selalu merasa hidup ini salah. Kamu akan merasa dunia ini kasar, tubuh ini kotor, emosi ini mengganggu, dan manusia lain sebagai gangguan perjalananmu ke kesucian. Pandangan itu membuatmu semakin jauh dari dirimu sendiri. Kamu kehilangan rasa bersyukur terhadap kesempatan menjadi manusia.
Cobalah melihat ini dengan jernih. Bukankah lebih membebaskan jika kita menerima bahwa tubuh ini bukan penjara. Tubuh ini adalah kesempatan. Kesadaran yang lahir di dalam diri ini bukan hukuman. Ia adalah pintu. Pintu untuk mengenali diri, untuk mengalami rasa, untuk belajar mencintai, untuk tumbuh dan matang sebagai manusia. Ketika kamu mengakui bahwa pengalamanmu muncul selama otak hidup, kamu tidak lagi mengejar dunia lain untuk mencari jati diri. Kamu mulai menghargai hidup dengan penuh kesadaran. Manusia bukan makhluk spiritual yang terperangkap dalam tubuh. Manusia adalah kesadaran yang sedang mengalami kehidupan melalui tubuh ini. Kalau pemahaman ini benar-benar kamu resapi, kamu akan berhenti mencari jalan keluar dari hidup dan mulai mencari jalan masuk ke dalam hidupmu sendiri.

