Keinginan Menjadi Kaya Bukanlah Kesalahan
Aku ingin memulainya dari sana, supaya kita bisa jujur. Tidak perlu pura-pura suci. Tidak perlu menolak kenyataan bahwa hidup butuh uang dan rasa aman. Masalahnya bukan pada keinginan untuk menjadi kaya itu sendiri. Masalahnya muncul ketika keinginan dibungkus jubah spiritual, lalu dijual sebagai jalan sadar.
Kamu pasti sering menemukannya. Ajaran tentang hidup berlimpah, tentang hutang yang bisa lunas lewat keselarasan energi, tentang semesta yang siap mengabulkan asal pikiran dijaga positif. Banyak yang mengikuti. Banyak yang merasa tertolong. Dan aku tidak sedang mengejek itu. Aku hanya ingin mengajakmu melihat, apa sebenarnya yang bekerja di balik daya tariknya?
Coba kita bertanya pada diri sendiri. Bukankah ajaran-ajaran itu terasa hangat karena tidak meminta kita kehilangan apa pun? Tidak ada yang perlu dilepas. Tidak ada identitas yang digoyang. Yang ada justru janji bahwa semua yang kita inginkan sah, bahkan didukung oleh semesta. Ego tersenyum. Luka ekonomi merasa diiobati. Rasa gagal perlahan berubah menjadi harapan.
Di situ ajaran ini menjadi sangat manusiawi. Ia hadir tepat di titik paling rapuh. Ketika hidup terasa sempit, ketika cicilan menekan dada, ketika masa depan tampak kabur, pesan seperti itu datang sebagai penawar. Ia berkata, kamu tidak salah. Kamu hanya belum selaras. Dan kalimat itu berpengaruh sangat dalam di pikiran. Ia meredakan rasa malu, rasa bersalah, dan rasa tertinggal.
Aku menulis ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk bertanya. Apakah ketenangan yang muncul berasal dari kejernihan, atau dari penghindaran yang tidak disadari? Apakah ajaran ini membuatmu lebih sadar atas pola hidupmu, atau justru memindahkan tanggung jawab ke sesuatu yang abstrak bernama semesta?
Aku sering melihat satu pola berulang. Ketika hidup sulit, manusia ingin merasa punya kendali. Ajaran kelimpahan menawarkan kendali itu dalam bentuk batin. Visualisasi, afirmasi, frekuensi. Semua terasa bisa diatur. Jauh lebih ringan dibanding mengakui bahwa ada kebiasaan yang perlu diubah, keputusan yang perlu ditanggung, atau sistem keuangan yang memang tidak adil sejak awal.
Dan jangan salah paham. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal arah ke mana kesadaran akan dibawa.
Banyak ajaran kelimpahan berbicara tentang menarik (kekayaan) lebih banyak ke dalam hidup. Lalu apa yang membuat hidup terasa selalu kurang, bahkan ketika sudah punya banyak? Pertanyaan ini tidak nyaman. Karena jawabannya sering tidak menyenangkan. Ia menunjuk pada keterikatan, pada perbandingan, pada luka lama yang belum selesai.
Itulah sebabnya ajaran yang membongkar pemikiran jarang ramai. Ia tidak memberi validasi secara cepat. Ia tidak menjanjikan hasil instan. Ia mengajak duduk dalam ketidakpastian. Dan jujur saja, siapa yang ingin itu setelah seharian hidup terasa berat?
Maka wajar jika ajaran yang menenangkan mayoritas selalu lebih laku. Ia seperti musik lembut di ruang tunggu. Membuat kita lupa bahwa kita sedang menunggu sesuatu yang belum tentu datang. Tidak salah. Tapi juga belum tentu membebaskan.
Di titik ini, kalau sebuah ajaran merasa lebih tinggi dari orang lain, lebih istimewa karena “sudah selaras”, “sudah melepas’ atau lebih benar karena “sudah positif”, berhati-hatilah. Itu bukan kesadaran. Itu hanya ego yang berganti kostum.
Kesadaran tidak membuatmu merasa unggul. Ia justru membuatmu lebih rendah hati, lebih bertanggung jawab, dan lebih berani melihat kenyataan apa adanya. Kadang setelah itu hidup memang tidak langsung berlimpah. Tapi ada batin yang lapang di dalam diri. Dan dari ruang itulah keputusan yang lebih jernih akan lahir.
Aku tidak menolak kekayaan dan juga tidak memuliakan kemiskinan. Aku hanya menolak kebohongan halus yang membuat manusia terus mengejar tanpa pernah merasa cukup. Aku ingin mengajakmu melihat bahwa rasa cukup bukan hadiah dari semesta, melainkan hasil dari berkurangnya tuntutan batin.
Dan pertanyaannya kembali padamu, bukan padaku. Apa yang sebenarnya sedang kamu cari? Kelimpahan atau kebebasan dari rasa kurang?

