spot_imgspot_img

LAKU JIWO

Mengapa Laku Jiwo?

Manusia hidup di dunia yang sama, tetapi tidak hidup di dalam kehidupan yang sama.

Dua orang dapat mengalami peristiwa yang serupa, tetapi menjalaninya dengan cara yang sangat berbeda. Kehilangan pekerjaan dapat menghancurkan seseorang, sementara bagi orang lain peristiwa yang sama menjadi awal dari kehidupan yang baru. Penyakit dapat dipandang sebagai hukuman, tetapi juga dapat dipahami sebagai kesempatan untuk mengenal diri lebih dalam. Bahkan satu kitab suci yang sama dapat melahirkan ribuan penafsiran, ribuan keyakinan, dan ribuan cara hidup yang berbeda.

Kalau fakta yang dihadapi sama, mengapa kehidupan yang lahir darinya dapat begitu berbeda?

Selama berabad-abad, filsafat, agama, psikologi, dan ilmu pengetahuan telah berusaha menjawab pertanyaan itu dari berbagai sudut pandang. Sebagian menempatkan rasio sebagai pusat pengetahuan. Sebagian lain memulai dari pengalaman empiris. Ada yang memandang realitas metafisik sebagai dasar seluruh kehidupan. Ada pula yang menekankan bahasa, sejarah, atau struktur sosial sebagai pembentuk cara manusia memahami dunia.

Semua pendekatan tersebut memberikan sumbangan yang sangat berharga. Namun di balik keberagamannya, masih tersisa satu pertanyaan yang terus mengusik.

Apakah manusia sesungguhnya hidup berdasarkan fakta, atau berdasarkan makna yang ia berikan terhadap fakta itu?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat The Laku Jiwo Project.

Proyek ini tidak dimulai dengan membangun teori tentang Tuhan, alam semesta, atau hakikat keberadaan. Ia juga tidak dimulai dengan usaha menggantikan tradisi filsafat yang telah berkembang selama ribuan tahun. Sebaliknya, Laku Jiwo memulai dari sesuatu yang paling dekat dengan setiap manusia, yaitu pengalaman yang disadari.

Sebab sebelum manusia membangun agama, filsafat, ilmu pengetahuan, ataupun kebudayaan, manusia terlebih dahulu mengalami kehidupan.

Dan setiap pengalaman selalu menunggu untuk dimaknai.

The Laku Jiwo Project dibangun di atas satu tesis yang menjadi fondasi seluruh pengembangannya.

Manusia tidak hidup berdasarkan fakta semata, melainkan berdasarkan makna yang lahir dari pengalaman yang disadari. Makna itulah yang membentuk cara manusia memandang, memilih, dan menjalani kehidupannya.

Fakta tidak pernah berbicara dengan sendirinya. Fakta selalu hadir melalui cara manusia memahaminya. Peristiwa yang sama dapat melahirkan harapan pada seseorang dan keputusasaan pada orang lain. Simbol yang sama dapat menjadi sumber kedamaian bagi sebagian orang, tetapi menjadi sumber konflik bagi yang lain. Perbedaannya tidak terletak pada fakta itu sendiri, melainkan pada pemaknaan yang lahir dari pengalaman masing-masing.

Karena itu, bagi Laku Jiwo, makna bukan sekadar hasil berpikir. Makna adalah jembatan yang menghubungkan pengalaman dengan cara hidup. Melalui pemaknaan, pengalaman berubah menjadi pandangan hidup, pandangan hidup membentuk sikap, dan sikap melahirkan tindakan.

Inilah alasan mengapa proyek ini tidak pertama-tama bertanya, “Apa yang benar?” atau “Apa yang salah?”, melainkan, “Bagaimana makna lahir?” Sebab sebelum manusia memutuskan apa yang akan dipercayai, ia selalu lebih dahulu memberi makna terhadap apa yang dialaminya.

Dari titik inilah seluruh bangunan Laku Jiwo berkembang.

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_img

Related Articles

spot_img

Get in Touch

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Posts