Bertemu Diri Sejati

Bertemu dengan diri sejati. Hai sahabat Bahtera, kali ini saya akan membahas tentang fenomena atau ajaran-ajaran yang mengarahkan seseorang untuk bertemu dengan diri sejati. Dapatkah manusia itu bertemu dengan diri sejati? Apa sih yang disebut dengan diri sejati itu?

Sahabat bahtera, di dalam sebuah pencarian tentu saja seseorang menginginkan hal-hal yang dianggap melebihi dari otoritas dirinya. Mungkin otoritas itu bisa merupakan guru sejati atau malaikat pembimbing, atau bahkan Tuhan itu sendiri. Kemudian dalam perjalanannya tersebut tentu manusia akan bertemu dengan berbagai macam cara dengan berbagai macam metode. Salah satu metode yang mengarahkan manusia untuk bertemu dengan diri sejati ini sangat menarik, karena dikatakan ketika kamu sudah mengenal dirimu maka kamu akan mengenal Tuhan. Otomatis ketika kamu bertemu dengan dirimu, maka kamu akan bertemu Tuhan. Demikian analoginya. Tetapi yang jadi masalah adalah diri itu yang mana? Bila anda mau bertemu dengan diri anda, bila anda mau bertemu dengan diri sejati anda, maka yang disebut diri sejati itu yang mana? Yang disebut diri itu yang mana? Ketika anda bercermin, Ketika saya bercermin Kemudian saya melihat muka saya sendiri, tubuh saya sendiri, apakah itu diri saya? itu diri saya atau tubuh saya? Ketika saya melihat muka saya, itu muka saya atau itu diri saya? Ketika saya melihat tangan saya bergerak, ini tangan saya atau itu diri saya?

Siapa yang kita temui di depan cermin? Tubuh saya atau diri saya? Nah, kemudian dari berbagai macam metode, dari berbagai macam cara, kita semuanya dapat melakukan refleksi; Apakah cara-cara itu betul-betul mengarahkan kita untuk bertemu dengan diri sejati kita? Atau jangan-jangan….. Jangan-jangan anda hanya bertemu dengan imajinasi anda tentang diri sejati itu?  Kalau Kemudian Anda bertemu dengan malaikat, jangan-jangan anda hanya bertemu dengan imajinasi anda tentang malaikat? Kalau Anda bertemu dengan sosok guru sejati, jangan-jangan anda hanya bertemu dengan imajinasi anda tentang guru sejati? Bahkan kalau Kemudian Anda bertemu dengan Tuhan, jangan-jangan anda hanya berimajinasi bertemu dengan Tuhan?

Ini memang sedikit rumit, tetapi sederhana. Sekarang memang paradoks: sederhana tapi rumit – rumit tetapi sederhana. Kita cenderung untuk mengingkari atau menjauhi hal-hal yang sederhana.

Sekali lagi karena pikiran kita Kompleks, pikiran kita menginginkan hal-hal yang lebih ruwet daripada hal-hal yang sudah ada di depan kita dan sederhana.

Sahabat bahtera, Bila anda ingin bertemu dengan diri sejati anda, Kemudian Anda diharuskan berpuasa, bertirakat – puasa itu bisa apa saja ya, bisa mengurangi makan, bisa mengurangi tidur atau bahkan tidak tidur selama 24jam yang disebut puasa patigeni. Ada juga puasa mutih, puasa ngrowot, puasa macem-macem. Intinya adalah puasa. Anda diharuskan puasa selama beberapa hari. Apalagi kalau Kemudian pada saat Anda puasa ditambah Anda harus merapalkan mantra mantra tertentu. Entah itu mantra di dalam bahasa daerah Anda, ataupun mantra di dalam bahasa Agama anda. Apa yang terjadi ketika anda berpuasa dan di awal puasa Anda sudah berharap tentang sesuatu? Dalam hal ini adalah Anda berharap bertemu dengan diri sejati? Ya Anda membangun imajinasi setiap saat, setiap jam, setiap hari Anda membangun imajinasi untuk bertemu dengan diri sejati Anda.

Apa yang terjadi? Puasa akan menguatkan daya imajinasi anda. Kalau hal itu dilakukan terus-menerus, continue, imajinasi akan tumbuh menjadi ilusi. Kemudian kalau diperpanjang lagi, ilusi akan tumbuh menjadi halusinasi. Kemudian dilanjutkan lagi halusinasi akan tumbuh menjadi hal yang anda Yakini itu nyata, yaitu Delusi.

Sahabat bahtera, saya analogikan dengan hal yang sangat sederhana: Anda berada di dalam satu kamar yang penuh dengan barang. Ada tempat tidur, ada lemari, ada bantal, ada buku, ada meja belajar, ada meja kerja Anda. Kemudian ada komputer. Anda berada di dalam kamar itu, apa yang bisa anda identifikasi? Tentu banyak! Aku adalah kamarku, beberapa orang kemudian mengidentifikasi akunya itu sesuai dengan mahalnya tempat tidur. Akunya itu sesuai dengan mahalnya laptop. Akunya itu sesuai dengan mahalnya tas kerja. Akunya itu sesuai dengan mahalnya meja atau barang-barang yang ada di kamar anda.

Anda berada di dalam satu kamar kemudian banyak barang-barang disana. Identifikasi anda akan menjadi sangat rumit. Begitu pula dengan tubuh kita.

Ada dua buku yang saya ambil sampel Disini. Yang pertama adalah soul journey seri pertama dan yang kedua bukan buku saya, tetapi buku kawruh jiwa karya Ki Ageng suryomentaram. Ini berbicara tentang kramadangsa. Nah dua-duanya ini sama-sama berbicara tentang ego state.

Mengapa saya bicara tentang ego state? Ini kaitanya dengan diri sejati tadi. Saat saya bahagia, yang bahagia Siapa? Ada Sisi dari diri saya yang merasakan bahwa saya bahagia. Pada saat saya marah, ada sisi diri saya yang merasakan bahwa saya marah. Saat saya sedih, Ada Sisi dari diri saya yang sedang merasakan Saya sedih. Perasaan-perasaan itu merupakan sebuah cermin terhadap semua peristiwa yang hadir dalam kehidupan kita. Orang Jawa mengatakan itu adalah sedulur papat. Kalau anda mau mendengar uraian saya tentang seluruh papat limo pancer, Anda bisa melihat video saya tentang itu sebelumnya.

Sedulur papat limo pancer kurang lebih sama di buku ini. Saya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan yang bukan jiwa itu sendiri. Semua bagian dari pikiran kita, identifikasi pikiran yang punya rasa marah, pikiran punya rasa benci, pikiran punya rasa cinta, pikiran punya rasa seperti gundah Gulana. Pikiran punya harapan. Semua hal itu dikatakan oleh Ki Ageng suryomentaram dengan sebutan kromodongso. Aku yang marah, aku yang bahagia, di dalam kromodongso Ki Ageng menyarankan kita membuat catatan-catatan. Kalau aku marah keputusanku Seperti apa? Kalau aku sedang senang, keputusanku Seperti apa? Kalau aku sedang bahagia, keputusanku seperti apa? Yang jelas semua itu aku, aku, aku, aku, aku, aku. Dan itu bukan dirimu. Itu bukan diri kita.

Aku yang marah, Aku yang bahagia, aku yang sedih, aku yang merasa berhasil, aku yang A, aku yang B, aku yang merasakan semuanya itu bukan diri kita, dan itu bukan diri Anda. Lalu di mana diri kita? di mana diri sejati?

Oke kita mundur lagi. Apabila Anda dari awal berpuasa, tirakat, beribadah, berdoa meningkatkan daya konsentrasi Anda, artinya Anda membangun imajinasi untuk bertemu dengan diri sejati. Akhirnya Anda bertemu. Ya Anda bertemu dengan imajinasi anda sendiri. Anda bertemu dengan ilusi anda sendiri. Anda diliputi oleh halusinasi anda tentang diri sejati itu.

 Sahabat bahtera, kembali ke analogi kamar tadi. Hal ini sebetulnya simple untuk mengidentifikasi diri anda yang tidak terpengaruh oleh barang-barang dikamar itu. Bila kamar anda penuh dengan barang, bagaimana supaya Anda tidak teridentifikasi oleh barang-barang itu? Anda cukup mengeluarkan barang itu. Keluarkan tempat tidurnya, keluarkan lemarinya, keluarkan peralatan kerja Anda, keluarkan baju-baju Anda, keluarkan buku-buku anda. Ketika semua sudah anda keluarkan dari kamar itu, dan kamar itu bersih dari barang-barang, maka yang tertinggal hanya anda sendiri. Ketika yang tertinggal hanya anda sendiri, anda akan menyadari bahwa itulah diri Anda. Yaitu bukan diri yang melekat kepada tempat tidur, kepada baju yang mahal, kepada laptop yang mahal, kepada tas anda, kepada hal-hal yang di kamar anda karena yang tersisa hanya anda. Keluarkan semua barang-barang dari kamar anda dan yang tersisa hanya anda.

Demikian pula dengan kita manusia. Kita punya marah, kita punya benci, kita punya asumsi, kita punya bahagia, kita punya sedih, kita punya masalah, kita punya berbagai macam hal yang kita Identifikasikan sebagai diri kita.

Ketika anda melihat postingan YouTube yang tidak sesuai dengan pemikiran Anda, maka salah satu bagian diri Anda bersuara. Kemudian ingin komentar tentang hal-hal yang anda anggap tidak setuju.

Bila kita akan bertemu dengan diri sejati, bila anda mau menemui diri sejati anda, Hai maka Hai kenalilah bagian-bagian pikiran anda di bagian pikiran anda yang menimbulkan rasa marah ego State Hai Mengapa rasa marah itu timbul Mengapa ego marah anda itu timbul ini disebabkan oleh apa Hai egoiste tanda yang merasakan bahagia Mengapa Bahagia itu timbul peristiwa apa yang men-trigger ego state bahagia Anda timbul hanya ketika anda sudah mengidentifikasi satu persatu dari bagian-bagian ego itu maka kita menyadari bahwa itu bukan aku.

Tetapi kalau kita tidak pernah mengidentifikasi itu, kita akan menganggap bahwa kemarahan itu kita. Kita akan menganggap bahwa kebahagiaan itu kita. Kita akan menganggap bahwa kesedihan itu kita. Kita akan menganggap kegagalan itu kita. Kita akan menganggap harapan-harapan kita itu adalah kita. Kita akan menganggap semua perasaan yang timbul saat itu adalah kita. Ketika aku sedih, aku menganggap bahwa aku hancur karena kesedihan. Ketika aku marah, aku menganggap bahwa aku hancur karena kemarahan, padahal itu bukan diri kita.

Diri sejati hanya bisa kita temui ketika kita mengidentifikasi bagian-bagian Eko dari manusia, dari kita sendiri.

Jadi apa yang bisa kita lakukan? Kyai Ageng Suryo mentaram menganjurkan untuk membuat catatan tentang kramadangsa, tentang diri kita sendiri. Bila kita menemui suatu masalah, kemudian kita marah, apa yang menyebabkan kita marah? Kemudian rasa marah itu ada dimana? Apabila kita bertemu dengan satu peristiwa, dan kita sedih, Apa yang menyebabkan sedih? Dan rasa sedih itu ada dimana?

Ketika kita bisa melihat bahwa ada bagian diri kita yang marah, Artinya bahwa ada pengamat tentang rasa marah anda. Ketika Anda menyadari bahwa ada pengamat tentang rasa marah anda, tentu anda sadar bahwa anda bukan rasa marah itu, karena ada yang mengamati tentang rasa marah.

Ketika anda sedang sedih, ada yang mengamati tentang rasa sedih itu. Disitu anda sadar, bahwa anda bukan rasa sedih itu. Marah, sedih, gundah, kecewa, gagal, bahkan bahagia, bahkan sukacita, harapan, kekecewaan, Itu semua tidak mempengaruhi diri sejati kita. Kalau kemudian kita lihat lagi dan kita analogikan sebagai sebuah gelombang di samudera, maka ego-ego tadi – Ki Ageng Suryo mentaram mengatakan kromodongso. Ego adalah riak-riak gelombang yang tidak mempengaruhi Samudra itu sendiri.

Namun kembali lagi, bila Anda masih suka mencari diri sejati, menemui diri sejati dengan langkah-langkah konsentrasi, tirakat, baca mantra, berpuasa, ya sah-sah saja. Namun yang akan anda temui adalah imajinasi anda, yang anda temui adalah ilusi anda. Yang akan menyelimuti Anda adalah halusinasi anda. Dan Kalau diteruskan anda akan bertemu dengan imajinasi dari diri sejati anda.

Banyak yang terjebak dengan hal tersebut, bahwa diri sejati diidentikkan dengan sesuatu yang diluar dirinya. Seperti Cahaya atau bertemu dengan satu sosok seperti diri anda, tetapi dibaluti oleh cahaya. Mungkin suara yang anda dengarkan. Mungkin bentuk-bentuk lain yang anda anggap itu merupakan satu sosok otoritas yang lebih tinggi daripada Anda. Tapi sekali lagi, bila itu menjadi sebuah permulaan dari langkah untuk bertemu dengan diri sejati, maka kita membangun imajinasi dari awal. Dan ketika imajinasi dari awal diperkuat, anda akan bertemu dengan ilusi anda sendiri. Ilusi tentang diri sejati, ilusi tentang malaikat pembimbing, ilusi tentang diri sejati.

Yang paling parah, Anda kemudian berdelusi tentang hal-hal yang anda temui tersebut. Jadi sahabat Bahtera, Mari mulai sekarang, kita teliti diri kita sendiri dan Ego state yang ada di dalam diri kita, atau melalui catatan Kramadangsa dari Ki Ageng suryomentaram. Marah, sedih, bahagia, kecewa, gagal, sukses, cinta, benci, bukan diri anda. Itulah bagian-bagian yang merasakan reaksi dari peristiwa yang mampir dalam hidup anda.

Lalu dimana diri sejati itu? Apakah kita bisa bertemu dengan diri sejati itu? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan analogi kamar Tadi. Keluarkan barang-barang dari kamar Anda, sehingga Anda tidak teridentifikasi dengan barang-barang yang ada di situ, sehingga yang tertinggal hanya diri Anda sendiri.

Sahabat, Terima kasih sudah bersama saya, Agung Webe, di Ruang Diri. Salam Cinta dan bahagia.