Hanya Al-Qur’an yang Menantang untuk Ditiru. Kenapa Bisa Begitu?

Di antara sekian banyak kitab suci yang pernah lahir dalam sejarah umat manusia, hanya Al-Qur’an yang sejak awal membawa sebuah pernyataan menantang: jika kamu ragu, buatlah satu surah semisalnya. Kalimat ini bukan sekadar penggalan ayat, tetapi sebuah deklarasi besar yang mengandung keyakinan penuh bahwa kitab ini berada di luar jangkauan manusia. Tidak hanya mengajarkan nilai moral, hukum, dan spiritualitas, tetapi juga memposisikan dirinya sebagai teks yang tidak mungkin ditandingi.

Menariknya, tantangan seperti ini tidak kita temukan dalam kitab suci lain. Injil tidak pernah berkata: cobalah tulis satu perumpamaan semisalnya. Weda tidak pernah menegaskan: buatlah satu mantra yang sama kuatnya. Tripitaka tidak pernah menantang: ciptakan satu sutra seperti ini. Semuanya lebih banyak berisi ajaran, kisah, hukum, dan doa, tetapi tidak menjadikan teks itu sendiri sebagai arena pembuktian keilahian. Justru Al-Qur’an yang menempatkan dirinya bukan hanya sebagai wahyu, tetapi sekaligus sebagai mukjizat.

Mengapa bisa begitu? Pertama-tama, kita harus melihat konteks sejarahnya. Al-Qur’an turun di tengah masyarakat Arab abad ke-7, sebuah masyarakat yang sangat menghargai kata-kata. Syair adalah puncak kebudayaan mereka. Penyair memiliki kedudukan tinggi, bahkan bisa memengaruhi suasana hati dan arah politik sebuah kabilah. Dalam dunia seperti itu, datangnya sebuah kitab dengan gaya bahasa yang berbeda dari syair tradisional tentu mengejutkan. Tantangan untuk menirunya adalah cara paling efektif untuk menegaskan keistimewaannya di hadapan masyarakat yang memang menaruh harga tinggi pada kekuatan retorika.

Selain konteks budaya, ada juga aspek teologis yang khas. Dalam tradisi Islam, mukjizat para nabi biasanya sesuai dengan kondisi zamannya. Musa datang dengan tongkat yang bisa membelah laut, cocok untuk masyarakat yang akrab dengan mitologi sihir. Isa menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati, sesuai dengan zaman di mana penyembuhan menjadi simbol kekuatan. Muhammad datang di era di mana bahasa adalah kebanggaan, dan mukjizatnya pun berupa bahasa: Al-Qur’an. Dengan menantang orang untuk menirunya, kitab ini sekaligus menetapkan dirinya sebagai bukti kerasulan. Tidak perlu benda ajaib, cukup kata-kata.

Namun ada hal yang lebih menarik. Tantangan itu tidak berhenti di masa lalu. Ia masih hidup sampai sekarang, bahkan semakin sering terdengar di era internet. Di ruang-ruang debat online, di kolom komentar, di video YouTube atau TikTok, kalimat yang sama kerap dilontarkan: kalau kamu bisa, buatlah ayat seperti Al-Qur’an. Kalimat itu dipakai bukan lagi sebagai teks kitab, melainkan sebagai argumen apologetik untuk mempertahankan iman. Seolah semua kritik bisa dipatahkan dengan satu kalimat: buktikan dulu, buat ayat yang mirip.

Di sini kita masuk ke era modern, di mana situasi jauh berbeda. Ilmu linguistik telah berkembang. Analisis sastra bisa memetakan struktur kalimat, ritme, bahkan resonansi bunyi. Teknologi komputer memungkinkan pola bahasa dipelajari secara sistematis. Dan kecerdasan buatan, AI, kini mampu menulis teks bergaya quranik dengan rima dan repetisi yang nyaris identik. Jika kita jujur, secara teknis dan estetika, tantangan itu sebenarnya bisa dijawab. Teks dengan gaya serupa bukan lagi sesuatu yang mustahil. Banyak penulis Arab modern yang dengan sadar meniru gaya quranik dalam prosa puitisnya. Bahkan ada eksperimen-eksperimen, baik dari sastrawan maupun dari dunia teknologi, yang menghasilkan karya yang secara permukaan sangat mirip dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Namun masalahnya bukan pada teknis. Masalahnya ada pada pengakuan. Sebaik apapun teks yang ditulis, betapapun miripnya dengan Al-Qur’an, tidak akan pernah ada komunitas beriman yang mengakuinya sebagai “setara”. Bukan karena teks itu gagal indah, tetapi karena status sakral Al-Qur’an tidak terletak semata-mata pada bahasanya, melainkan pada keyakinan bahwa ia adalah wahyu. Dengan kata lain, tantangan itu bersifat asimetris. Siapa pun yang mencoba menirunya, sejak awal sudah dianggap gagal, sebab ukuran keberhasilan bukan pada kualitas bahasa, melainkan pada pengakuan iman.

Jika kita melihat lebih dalam, tantangan ini sekaligus berfungsi sebagai strategi otoritas. Dengan menantang orang untuk meniru, Al-Qur’an menutup ruang debat. Tidak peduli seberapa bagus hasil karya tandingan, ia tidak mungkin diterima. Maka klaim “tak tertandingi” akan selalu aman. Justru di situlah keunikannya. Keistimewaan itu dijaga bukan hanya oleh struktur teks, tetapi juga oleh komunitas yang mengimaninya. Sehebat apa pun teknologi, sehebat apa pun penulis, mereka berhadapan dengan dinding keyakinan yang tidak bisa ditembus.

Contoh konkret ini bisa kita lihat di berbagai eksperimen modern. Ada pihak yang mencoba menulis “kitab baru” bergaya quranik, bahkan ada yang menamainya dengan judul-judul provokatif seperti Furqan al-Haqq. Ada juga proyek-proyek akademis yang menguji apakah AI bisa membuat “surah baru”. Hasilnya tentu ditolak mentah-mentah, bukan karena tidak mirip, melainkan karena persoalannya bukan di kemiripan. Persoalannya adalah: siapa yang berani mengakuinya?

Inilah mengapa hanya Al-Qur’an yang menantang untuk ditiru. Tantangan itu lahir dari konteks budaya Arab, dijadikan bagian dari strategi mukjizat, dan kemudian terus diwariskan menjadi tameng iman. Kitab-kitab lain tidak mengenal mekanisme ini. Injil lebih sibuk dengan kisah hidup Yesus dan ajaran cinta kasih. Weda dipenuhi mantra dan filsafat kosmik. Tripitaka berisi wejangan Buddha dalam bentuk sutra-sutra panjang. Tidak ada satupun yang menyatakan dirinya tak tertandingi dalam bahasa, apalagi menantang orang untuk membuat semisalnya.

Lalu apa maknanya bagi kita hari ini? Jawabannya sederhana. Secara teknis, ayat semisal Al-Qur’an bisa dibuat. Zaman sudah berubah. Bahasa bisa ditiru, gaya bisa dipelajari, pola bisa direplikasi. Tetapi pertanyaan sesungguhnya bukan soal teknis. Pertanyaannya adalah: apakah orang-orang beriman bersedia mengakuinya? Dan di situlah jawaban berhenti.

Maka klaim itu tetap kokoh. Al-Qur’an bisa ditiru, tetapi tidak akan pernah diakui. Keunikannya justru ada di situ. Bukan hanya karena susunan katanya, tetapi karena keberanian sebuah teks menantang dunia untuk menirunya, sekaligus memastikan bahwa siapa pun yang mencoba sudah kalah sebelum bertanding.