Saya menemukan sebuah argumen begini:
Keajaiban Ilmiah dalam Al-Qur’an: Tentang embriologi dalam surah Al-Mu’minun (23:13-14) dianggap sesuai dengan pemahaman ilmiah modern tentang tahapan perkembangan embrio.
Mari kita bahas ……
Deskripsi tentang embriologi dalam surah Al-Mu’minun (23:13-14) dianggap sesuai dengan pemahaman ilmiah modern tentang tahapan perkembangan embrio. Bukankah pengetahuan tentang embrio sudah ada sejak jaman Yunani kuno dan itu jauh sebelum Quran ada?
Benar bahwa pengetahuan tentang embrio dan perkembangan manusia sudah ada sejak zaman Yunani kuno, jauh sebelum Al-Qur’an diwahyukan pada abad ke-7 Masehi. Tokoh-tokoh Yunani seperti Hippocrates (460–370 SM) dan Aristoteles (384–322 SM) sudah memiliki teori tentang perkembangan embrio manusia. Aristoteles, misalnya, mengamati bahwa perkembangan embrio terjadi secara bertahap, meskipun teorinya tidak sepenuhnya akurat dari perspektif sains modern.
Ilmu pengetahuan Yunani, Romawi, dan Persia pada masa sebelum Islam memang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia, termasuk di dunia Islam setelah Al-Qur’an diwahyukan. Ketika Islam berkembang, para sarjana Muslim seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes) banyak belajar dari ilmu pengetahuan klasik tersebut, termasuk dalam bidang kedokteran dan embriologi.
Jika kita menganalisis Surah Al-Mu’minun (23:13-14) secara netral dan tanpa melibatkan keimanan, maka sangat mungkin bahwa deskripsi tentang perkembangan embrio dalam Al-Qur’an dapat mencerminkan pengetahuan yang sudah ada pada zaman tersebut, termasuk pengetahuan Yunani kuno.
Sebelum Al-Qur’an diwahyukan pada abad ke-7, pengetahuan tentang perkembangan embrio manusia memang sudah berkembang di dunia Yunani kuno, terutama melalui karya Aristoteles dan Hippocrates. Mereka telah mengembangkan teori-teori dasar tentang bagaimana janin berkembang dalam rahim. Dalam pandangan mereka, proses perkembangan janin terjadi melalui tahap-tahap tertentu.
Pengetahuan Yunani dan Romawi sudah dikenal di dunia Arab, terutama melalui interaksi perdagangan dan budaya dengan wilayah yang telah mengadopsi filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Kota-kota besar seperti Alexandria, yang merupakan pusat keilmuan, memiliki perpustakaan dan sekolah yang mempelajari karya-karya filsuf dan ilmuwan Yunani, termasuk Aristoteles. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa gagasan-gagasan ilmiah tersebut sudah diketahui di kalangan masyarakat Arab pada saat itu.
Mengingat bahwa pengetahuan Yunani kuno telah berkembang selama berabad-abad sebelum Islam, dan bahwa informasi tersebut mungkin telah menyebar melalui berbagai saluran, termasuk jalur perdagangan dan budaya, tidak sepenuhnya mustahil bahwa gagasan-gagasan ini berperan dalam membentuk pemahaman umum tentang embriologi di kalangan masyarakat Arab pada saat itu. Dengan demikian, sangat mungkin bahwa deskripsi dalam Surah Al-Mu’minun adalah pengaruh dari pengetahuan kuno yang telah ada, yang kemudian diungkapkan kembali dalam konteks spiritual dan wahyu.

