Zen mengajariku langkah pendek yang sederhana dan Kramadangsa mengajariku menguliti nama-nama yang kupakai untuk merasa aman. Dari keduanya, aku memungut satu cara berjalan: tanpa metode yang kaku, tanpa klaim yang hiperbola. Yang kulatih adalah kebiasaan menengok dengan berulang-ulang, hingga tengok itu menjadi sifat. Selebihnya, biarkan hidup sendiri yang mengajar, lewat tatap mata orang asing di halte, lewat air mendidih yang lupa kumatikan, lewat anak kecil yang tertawa tanpa alasan, lewat hujan yang tak punya program motivasi.
“Siapa aku?” Pertanyaan ini akan datang lagi dan lagi. Laku Jiwo tidak menutupnya dengan slogan. Ketika pikiran mereda dan rasa menipis, “aku” sering terasa longgar, tak sepadat pikiran biasanya. Pada momen-momen itu pikiran gampang sekali meloncat ke pernyataan besar: “aku bertemu Tuhan.”
Aku tidak melarangmu memakai nama apa pun untuk menyebut itu; hanya kuminta satu kehati-hatian: jangan jadikan rasa yang bening sebagai paspor teologis.
Baca ia sebagai pengalaman yang menyejukkan, bukan legitimasi untuk menguasai makna tertinggi. Lebih baik pulang membawa kelembutan, ketimbang pulang membawa bendera klaim kebenaran.
Apa gunanya buku ini? Buku ini bukan untuk menambah hafalan, bukan untuk adu kutipan. Ia mengajakmu mempraktikkan hal-hal kecil: menunda jawaban satu detik agar tak menyakiti, menghitung tiga tarikan napas sebelum menekan “kirim” posting medsos, merasakan panas kopi sebelum menilai rasanya, mengakui letih tanpa drama, mendengar orang lain tanpa menyiapkan pembelaan. Hal-hal yang kelihatan remeh tetapi mengubah struktur hari-harimu. Bukankah hidup terbentuk dari yang remeh itu?
Kau akan berjumpa dengan tiga kata yang menjadi judul kecil buku ini: Hening, Pulih & Sadar. Hening di sini bukan pertunjukan bisu; ia ruang yang tidak berebut. Pulih bukan kembali seperti dulu; ia kekuatan untuk berdiri tegak meski kenangan tak bisa dihapus. Sadar bukan lampu sorot yang menyilaukan; ia mata yang jernih, tahu kapan memejam dan kapan terbuka. Tiga kata ini bukan program, melainkan irama. Kita belajar menari dengan ketiganya, di lantai yang sama bernama keseharian.
Ada yang bertanya: “Apakah aku harus percaya?” Maka kujawab; Tidak. Percaya dan tidak percaya hanyalah dua pakaian berbeda; keduanya bisa sama tebalnya. Yang kubutuhkan darimu hanya kesediaan menguji, di tubuhmu sendiri, di hari-harimu sendiri dan di jam-jammu sendiri. Rasakan bagaimana kata memengaruhi perhatian. Rasakan pula bagaimana jeda memengaruhi kata. Bila ada bagian yang terasa ganjil, simpan dulu. Bila ada yang terasa menyentuh, bawa ke dapur, ke pasar, ke ruang tamu. Di situ nilai sebenarnya terlihat: bukan saat kita terpukau, melainkan saat kita dipanggil kesal, ditarik cemas, digoda marah. Apakah dalam kondisi seperti itu melihat apa adanya tetap mungkin?
Aku bukan guru. Aku hanya penemu jalan setapak yang kebetulan melewati halamanmu. Mungkin jalanku tidak cocok untukmu. Tetapi tak apa. Ambillah hanya yang berguna: satu kalimat yang meredakan dadamu, satu latihan yang membikin siangmu lebih tenang, satu keputusan kecil yang membuatmu tidak menyesal malam nanti. Sisanya, biarkan gugur seperti daun tua, menjadi tanah bagi musim yang lain. Kau tidak perlu meyakini apa pun untuk menjadi manusia yang sedikit lebih ringan.
Mari berangkat dengan langkah yang sederhana: kita akan jujur kepada fakta, lentur kepada realita. Kita akan mengurangi beban, bukan menambah atribut pada ego. Kita akan memilih hadir ketimbang mencari menang atas sesuatu. Bila suatu hari tubuh ini selesai dengan tugasnya, semoga yang tertinggal hanyalah cerita baik tentang cara kita memperlakukan yang rapuh: Yaitu diri sendiri, orang-orang, dan dunia yang menua bersama kita. Sampai saat itu datang nanti, marilah berjalan pelan. Pegang secukupnya. Lepas selebihnya. Dan setiap kali tersesat, maka kembalilah menyadari saat ini, di sini, sekarang. Karena ‘saat ini’ itulah yang disebut rumah.

