Dalam Laku Jiwo, tidak ada agama dan tidak ada Tuhan. Namun Laku Jiwo juga tidak menolak keduanya. Jalan ini berdiri di luar kepercayaan dan penolakan. Ia tidak memerlukan konsep Tuhan untuk memahami hidup, sebagaimana ia juga tidak memerlukan konsep ketiadaan Tuhan untuk menjadi jernih dalam langkah-langkah kehidupan.
Laku Jiwo adalah jalan kesadaran yang non-teistik yang berpijak pada pengalaman langsung manusia dan bukan pada keyakinan yang bersifat metafisis. Fokusnya bukan pada siapa yang menciptakan dunia, melainkan pada siapa yang sedang menyadari dunia ini.
Laku Jiwo menghormati semua kepercayaan sebagai bentuk pencarian manusia, tetapi menolak menjadikan apa pun sebagai pusat mutlak di luar kesadaran itu sendiri. Bagi Laku Jiwo, yang suci dan maha besar bukanlah sosok yang disebut Tuhan, melainkan kejernihan batin yang mampu melihat tanpa ilusi.
“Kalau tidak beragama dan tidak ber-Tuhan, lalu apa dasarnya? Apakah ini ajaran ateis?”
Aku selalu tersenyum, karena pertanyaan itu lahir dari kebiasaan lama manusia yang selalu ingin menempatkan sesuatu di luar dirinya sebagai pusat. Aku tidak menolak Tuhan, tetapi aku juga tidak perlu mengaku percaya. Begitu seseorang berkata “aku percaya”, maka secara halus ia sedang menciptakan jarak antara dirinya dan yang ia percayai.
Aku menyebut jalanku adalah ‘Laku Jiwo’. Dan Laku Jiwo tidak bicara tentang jarak. Ia bicara tentang kesadaran yang sedang menyadari dirinya sendiri, tanpa menempatkan apa pun di luar sebagai pusat makna.
Agama dan Tuhan adalah bagian dari cerita panjang manusia. Sejak awal peradaban, manusia membentuk kisah untuk menjelaskan asal mula dan tujuan hidupnya. Dari kisah itu lahir konsep Tuhan, nabi, kitab, surga, dan neraka. Cerita-cerita itu berfungsi sebagai panduan moral, alat kontrol sosial, sekaligus perekat komunitas. Tidak ada yang salah dengan itu. Cerita diperlukan oleh manusia yang belum mengenal dirinya sendiri, seperti peta yang dibutuhkan oleh seseorang yang belum tahu jalan pulang. Tetapi saat seseorang sudah sampai, ia tidak lagi memegang peta. Laku Jiwo tidak menolak peta, hanya menunjukkan bahwa jalan sesungguhnya tidak berada di atas kertas yang diangap suci, melainkan di dalam pengalaman langsung manusia yang sedang hidup saat ini.
Ateis menolak Tuhan, agnostik meragukannya, teistik meyakininya. Laku Jiwo berdiri di luar semua itu karena menyadari bahwa semua posisi itu lahir dari pikiran. Pikiran selalu membutuhkan lawan agar bisa eksis.
Ketika seseorang berkata “ada Tuhan”, maka pikiran segera menciptakan bayangan “tidak ada Tuhan”. Ketika seseorang berkata “aku tidak percaya”, maka bayangan tentang sesuatu yang ditolak itu tetap hadir dalam kesadarannya. Selama pikiran masih mencari posisi, ia tidak pernah benar-benar diam.
Laku Jiwo tidak mencari posisi. Ia hanya melihat. Melihat bagaimana pikiran bekerja, bagaimana perasaan bergerak, bagaimana keinginan muncul dan lenyap. Dari pengamatan itulah lahir kejernihan, dan kejernihan bukan hasil logika atau hadiah dari langit. Ia muncul dari keberanian untuk melihat tanpa bersembunyi di balik keyakinan.
Laku Jiwo adalah jalan non-teistik. Artinya, ia tidak menempatkan Tuhan sebagai pusat, tetapi juga tidak menghapus konsep itu. Ia hanya menganggap bahwa kebenaran tidak tergantung pada ide apa pun di luar pengalaman manusia.
Saat seseorang lapar, ia tahu karena ia merasakannya, bukan karena diberitahu kitab. Begitu pula dengan kesadaran. Ia bukan ajaran, melainkan pengalaman langsung yang terjadi di dalam diri. Tuhan, bagi sebagian orang, mungkin adalah simbol tertinggi dari kasih dan kesadaran. Tetapi bagi Laku Jiwo, kasih dan kesadaran itu sendiri sudah cukup. Ia tidak perlu dinamai. Karena begitu sesuatu diberi nama, batas muncul. Dan di sanalah perpecahan dimulai.
Apa yang membuat manusia bertengkar soal Tuhan bukan karena mereka benar-benar mengenal Tuhan, tetapi karena mereka berbeda dalam ide tentang Tuhan. Ide selalu lahir dari pikiran, dan pikiran selalu terbatas.
Laku Jiwo tidak berurusan dengan ide, melainkan dengan pengalaman langsung. Pengalaman tentang apa yang dirasakan seseorang saat marah, takut, mencintai, kehilangan atau diam. Di sanalah sesuatu yang lebih besar dari dirinya hadir. Dan Laku Jiwo tidak menamainya. Begitu dinamai, manusia mulai berdebat tentang bentuk dan tafsirnya. Maka lebih baik mengalami. Di dalam pengalaman itulah seseorang mungkin menemukan sesuatu yang melampaui dirinya tanpa perlu mengklaim bahwa ia tahu apa itu.
Agama berangkat dari iman, sedangkan Laku Jiwo berangkat dari kesadaran. Iman berkata: “Percayalah dulu, Yakin dulu, nanti kamu akan mengerti”. Kesadaran berkata: “Sadari dan maka kamu tidak perlu lagi percaya. Karena ketika kamu sadar, kamu tidak butuh keyakinan, karena kamu tahu secara langsung dari pengalaman sadarmu”.
Laku Jiwo mengajak manusia kembali pada cara mengetahui yang alami, yaitu melalui kesadaran langsung dan bukan melalui dogma. Karena itu dalam Laku Jiwo tidak ada kitab suci, tidak ada nabi, tidak ada surga, dan tidak ada neraka. Yang ada hanya manusia yang sedang mengalami hidup sebagaimana adanya.
Laku Jiwo tidak menolak agama. Ia justru menghormati semua kepercayaan sebagai cermin batin manusia. Manusia menciptakan Tuhan dengan wajahnya sendiri. Yang penuh kasih menciptakan Tuhan yang welas asih. Yang penuh amarah menciptakan Tuhan yang murka. Yang haus kekuasaan menciptakan Tuhan yang mengatur dan menghukum. Maka Tuhan adalah cermin batin. Bila batinmu jernih, Tuhanmu pun jernih. Bila batinmu gelap, Tuhanmu pun menakutkan. Tetapi ketika batinmu diam, kamu tak lagi butuh Tuhan apa pun, karena yang tersisa hanyalah kesadaran yang utuh.
Dalam pandangan Laku Jiwo, kesucian tidak terletak di sosok otoritas tertinggi atau rumah ibadah. Kesecuian terletak pada kejernihan batin manusia. Kejernihan yang tidak menilai, tidak menghakimi, dan tidak mengklaim tahu segalanya. Kejernihan yang mampu melihat tanpa ilusi, tanpa nama, tanpa perbandingan. Ketika kesadaran itu hadir, tidak perlu lagi menyebut Tuhan, karena yang ada hanyalah keutuhan tanpa batas. Di situlah letak yang disebut suci. Bukan pada simbol, tetapi pada kejernihan yang melihat segalanya sebagaimana adanya.
Sebagian orang merasa takut mendengar bahwa Laku Jiwo tidak berlandaskan agama. Mereka khawatir hidup tanpa agama berarti kehilangan arah moral. Padahal justru sebaliknya. Ketika seseorang hidup dari kesadaran, bukan dari aturan, ia mulai bertanggung jawab secara utuh. Ia berbuat baik bukan karena takut dosa, tetapi karena merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaannya sendiri. Ia tidak mencuri bukan karena takut neraka, tetapi karena melihat bahwa mengambil milik orang lain berarti melukai dirinya sendiri. Inilah moralitas yang lahir dari kesadaran, bukan dari dogma. Ia lembut, tapi tegas. Ia tidak butuh pengawas, karena kesadaran itu sendiri adalah saksi.
Jadi apakah Laku Jiwo percaya Tuhan? Pertanyaan itu tidak lagi relevan. Karena begitu seseorang benar-benar hadir, yang ditemukan bukan Tuhan dan bukan pula ketiadaan Tuhan, melainkan kesadaran yang sedang menyadari segala sesuatu. Kesadaran yang melihat bahwa “Tuhan” dan “manusia” hanyalah dua sisi dari satu cermin. Ketika cermin itu bersih, ia tidak lagi mencari bayangan. Laku Jiwo tidak mengajarkan keimanan dan tidak pula kekosongan atau nihilisme. Ia mengajak manusia pulang ke pengalaman paling dasar dengan menjadi manusia yang sadar, utuh dan bertanggung jawab. Dari pengalaman paling dasar itulah semua ajaran luhur sesungguhnya berawal. Ajaran itu bukan dari surga, melainkan dari kesadaran yang hidup di bumi, di dalam diri manusia sendiri, saat ini, di sini dan sekarang.
Gabung group whatsapp dengan klik barcode atau scan barcode ini:


