Ketika saya sedang duduk di sebuah kafe kecil di Yogya, sebuah percakapan menarik tanpa sengaja tertangkap telinga saya. Dua orang sedang berdiskusi. Yang satu berkata, “Dunia ini makin aneh saja. Semua orang sekarang seperti punya agama sendiri.” Temannya merespons dengan santai, “Ya, dan menurut saya itu bukan masalah. Hidup toh nggak harus sama, yang penting baik ke sesama.”
Percakapan itu membuat saya berpikir. Benarkah dunia sedang menuju ke arah di mana tidak ada lagi agama yang dominan? Dan jika iya, apakah itu hal yang buruk? Saya rasa, tidak.
Mari kita lihat realitas hari ini. Dunia semakin terkoneksi. Orang-orang dari berbagai budaya, keyakinan, dan tradisi, hidup berdampingan lebih erat dari sebelumnya. Globalisasi dan teknologi memaksa kita untuk mengenal “dunia lain” yang dulunya terasa begitu jauh. Hasilnya? Banyak dari kita mulai menyadari bahwa tidak ada satu pun cara hidup yang benar-benar “seragam.” Agama, yang selama ini sering dianggap sebagai fondasi utama moralitas, juga terkena dampaknya.
Sebagai contoh, ada teman saya yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius. Tapi seiring waktu, dia mulai merasa bahwa banyak pertanyaan dalam hidupnya tidak bisa dijawab oleh agama yang dia peluk sejak kecil. Dia pun mulai mencari. Dia membaca tentang agama lain, menjelajahi ajaran spiritual, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan: “dia tidak perlu memilih satu agama saja untuk menjadi pribadi yang baik.”
Baginya, hidup yang penuh empati dan kasih sayang jauh lebih penting daripada label agama apa yang dia pakai.
Fenomena seperti ini bukan kasus langka. Sebuah survei di negara-negara Barat menunjukkan peningkatan jumlah orang yang tidak terafiliasi dengan agama tertentu, yang sering disebut sebagai “the nones.” Mereka bukan ateis, tetapi juga bukan pemeluk agama tradisional. Mereka percaya pada nilai-nilai kebijaksanaan yang mulia, tetapi tidak ingin terikat pada dogma tertentu. Hal serupa juga mulai terlihat di negara-negara lain, termasuk di Asia. Orang-orang, terutama generasi muda, mulai memprioritaskan pengalaman pribadi dan hubungan antarmanusia daripada kepatuhan pada institusi agama.
Namun, apakah ini berarti agama akan hilang? Ataukah Agama masih memiliki tempat penting bagi banyak orang? Atau yang mulai berubah adalah dominasi satu agama atas yang lain. Di masa depan, tampaknya tidak akan ada lagi satu agama yang dianggap mayoritas atau “paling benar.” Dunia akan menjadi lebih pluralis.
Pluralisme di sini bukan sekadar “toleransi.” Ia adalah pengakuan bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya berdiri sejajar. Masyarakat pluralis mengajarkan kita untuk mendengarkan, memahami, dan menerima perbedaan tanpa harus merasa kehilangan identitas.
Tetapi, mari kita realistis. Menuju masyarakat pluralis bukanlah perjalanan yang mudah. Masih ada banyak tantangan. Polarisasi, misalnya, sering menjadi penghalang besar. Media sosial, meskipun menghubungkan kita, juga sering memperkuat jurang perbedaan. Kita dengan mudahnya terjebak dalam “kamar gema” yang hanya memperkuat keyakinan kita sendiri sambil merendahkan pandangan lain.
Lalu ada juga ekstremisme, yang masih menjadi ancaman nyata di banyak tempat. Bagi sebagian orang, pluralisme mungkin terasa seperti ancaman terhadap identitas mereka.
Namun, saya percaya bahwa tantangan ini bisa diatasi. Kuncinya adalah pendidikan dan dialog. Jika sejak dini kita diajarkan untuk menghargai perbedaan, untuk melihat nilai-nilai universal di balik keyakinan yang berbeda, maka kita akan tumbuh menjadi generasi yang lebih terbuka dan inklusif. Selain itu, penting juga untuk memperkuat nilai-nilai yang bisa diterima oleh semua, seperti keadilan, empati, dan cinta kasih. Ini adalah nilai-nilai yang melampaui batas agama.
Sekarang, mari saya ajak Anda merenung. Apa yang sebenarnya membuat kita menjadi manusia yang baik? Apakah itu label agama yang kita kenakan? Ataukah sikap kita terhadap sesama? Saya rasa jawabannya jelas. Kebaikan tidak harus selalu datang dari rasa takut kepada Tuhan atau janji surga. Kebaikan sejati adalah yang lahir dari kesadaran bahwa kita semua terhubung, bahwa apa yang kita lakukan berdampak pada orang lain.
Bayangkan dunia di mana tidak ada agama yang mayoritas. Bukan berarti agama kehilangan tempatnya, tetapi setiap keyakinan dihargai setara. Dalam masyarakat seperti itu, orang tidak lagi sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Fokusnya adalah bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan damai, saling mendukung, dan saling menghormati.
Saya tahu, ide ini mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang. Tapi bukankah mimpi seperti ini yang kita butuhkan? Dunia yang damai, di mana keberagaman dirayakan, bukan ditakuti. Mungkin perjalanan ke sana masih panjang, tapi saya percaya kita sedang menuju ke arah itu.
Jadi, jika ada yang bertanya kepada saya, “Apakah Anda khawatir tentang berkurangnya dominasi agama?” Saya akan menjawab, “Tidak sama sekali.” Justru, saya melihat ini sebagai peluang untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan setara, di mana tidak ada satu pun kelompok yang merasa lebih tinggi dari yang lain.
Tentu saja hidup bukan tentang apa yang kita yakini, tetapi bagaimana kita menjalani keyakinan itu. Entah Anda percaya pada Tuhan, pada alam semesta, pada kehidupan atau bahkan tidak percaya adanya Tuhan dan hanya pada kekuatan diri sendiri, yang penting adalah bagaimana Anda memperlakukan orang lain. Saya menyebutnya, “Yang penting, baik kepada sesama.”

