Tuhan Sebagai Logika Mistika

Saya pernah duduk di sebuah warung kopi kecil, hanya saya dan seorang teman lama. Kami berbincang soal hidup, alam semesta, dan hal-hal yang entah kenapa selalu menyimpan misteri.

“Kenapa orang bisa percaya banget sama hal-hal yang nggak masuk akal ya?” tanya dia sambil menyeruput kopinya yang masih mengepul. Sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi entah kenapa terasa berat waktu itu. Kami tidak membicarakan konspirasi atau teori aneh soal alien, tapi ini diskusi soal Tuhan, takdir, dan keyakinan manusia yang sering kali sulit dimengerti.

Saya terdiam sejenak, lalu mulai berpikir keras. Apa ya, yang bikin manusia begitu gampang percaya, bahkan pada sesuatu yang kelihatannya mustahil? Jawabannya, kalau kita bongkar lebih dalam, ternyata punya banyak lapisan. Tapi mari mulai dengan satu fakta sederhana: yaitu bahwa manusia itu haus penjelasan.

Sejak zaman purba, manusia selalu ingin tahu tentang apa yang ada di balik segala hal. Mengapa petir menyambar? Mengapa hujan turun? Mengapa ada siang dan malam? Dan karena ilmu pengetahuan belum cukup canggih untuk menjawab semua itu, mereka menciptakan narasi. Dewa-dewi, roh, atau Tuhan adalah jawaban paling logis pada saat itu. Nenek moyang kita butuh cerita untuk merasa lebih aman di dunia yang penuh ketidakpastian. Jadi, ketika petir menyambar, mereka bilang itu amarah Zeus. Sederhana, kan? Tapi itu juga cerdas, karena memberi mereka rasa kontrol di tengah kekacauan.

Kebiasaan ini terbawa sampai sekarang, meskipun kita hidup di dunia yang jauh lebih modern. Ketika ada sesuatu yang sulit dijelaskan, manusia akan mencari jawaban yang bisa membuat mereka nyaman. Kalau tidak ada bukti ilmiah, ya sudah, keyakinan pun jadi pengganti. Contohnya? Banyak yang percaya ramalan zodiak karena rasanya pas dengan apa yang sedang mereka alami. Bahkan ketika bintang-bintang di langit itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan urusan percintaan kita.

Selain itu, otak kita ini punya kelemahan. Pernah dengar istilah confirmation bias? Itu adalah kecenderungan untuk percaya pada hal-hal yang sejalan dengan apa yang sudah kita yakini sebelumnya. Misalnya, kalau saya percaya kalau dunia ini penuh konspirasi, maka setiap berita aneh yang muncul akan terasa sebagai bukti bahwa saya benar. Ini semacam filter otomatis yang bikin kita cuma melihat apa yang mau kita lihat. Otak itu pintar, tapi sayangnya, kadang suka males ribet.

Nah, ngomong-ngomong soal ribet, mari kita bahas soal rasa takut. Takut itu emosi yang kuat, lho. Dan biasanya, ketika takut, kita lebih mudah percaya pada sesuatu yang kelihatannya bisa memberi perlindungan. Inilah kenapa banyak orang jadi religius ketika menghadapi kesulitan besar dalam hidupnya. Rasa takut kehilangan, rasa takut mati, atau rasa takut akan hal yang tidak diketahui mendorong manusia untuk mencari jawaban dalam sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Tuhan, dalam hal ini, jadi pelabuhan yang menenangkan.

Tapi ini tidak berhenti di sana. Kepercayaan juga punya elemen sosial yang kuat. Kalau satu kelompok besar orang percaya pada sesuatu, kita cenderung ikut-ikutan. Ini bukan semata soal kebodohan atau kurang berpikir kritis, tapi lebih karena manusia adalah makhluk sosial. Kita ingin merasa diterima, tidak dikucilkan. Jadi, kalau mayoritas orang di lingkungan kita percaya bahwa suatu hal itu benar, maka tanpa sadar kita akan mulai mengikutinya juga. “Masa sih semua orang salah?” sering jadi alasan di kepala kita.

Dan mari jujur saja: beberapa hal memang terlalu indah untuk tidak dipercayai. Bukankah ada rasa nyaman ketika membayangkan ada sosok Tuhan yang selalu mendengar doa kita? Atau memikirkan bahwa segala sesuatu di dunia ini punya makna, bukan sekadar kebetulan belaka? Ya, mungkin itu hanya cara otak kita untuk menciptakan narasi yang membuat hidup terasa lebih masuk akal. Tapi siapa yang bisa menyalahkan kita? Hidup ini bahkan terlalu absurd jika tidak diberi sentuhan makna.

Namun, apakah ini berarti percaya pada Tuhan sama dengan percaya pada hal-hal yang tidak bisa dipercaya? Di satu sisi, ya, karena keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi di sisi lain, kepercayaan itu bukan cuma soal logika. Tuhan, bagi banyak orang, adalah sumber penghiburan, kekuatan, dan harapan. Mungkin, yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain adalah kemampuan untuk menciptakan makna, bahkan ketika makna itu tidak bisa dilihat atau disentuh.

Jadi, kenapa manusia mudah percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak masuk akal? Karena itu bagian dari siapa kita. Kita ini pencari makna, pemecah teka-teki, dan perancang cerita. Otak kita dirancang untuk mencari pola, bahkan di tempat yang sebenarnya tidak ada pola sama sekali. Dan ketika logika tidak bisa menjawab semua pertanyaan, kita mengisinya dengan keyakinan bahwa itu adalah tindakan Tuhan.

Saya kembali memandang teman saya di warung kopi waktu itu dan mencoba menjelaskan semuanya dengan bahasa yang lebih sederhana. “Mungkin, percaya pada sesuatu yang nggak masuk akal, termasuk Tuhan itu seperti refleksi aja buat manusia. Hidup ini rumit, dan tidak semua orang mau kerja keras buat memahami semuanya. Jadi, kita pilih percaya saja bahwa semua ini diciptakan Tuhan, karena itu lebih gampang.”

Saat itu teman saya mengangguk pelan, entah setuju atau hanya menghormati pendapat saya. Tapi saya tahu, di balik secangkir kopi itu, ada sesuatu yang mendalam—keinginan untuk memahami manusia, termasuk diri kita sendiri. Dan mungkin, di situlah keajaiban sebenarnya. Kita terus bertanya, terus mencari, bahkan ketika jawabannya tidak selalu masuk akal. Atau ketika kita tidak punya jawaban dan harus ada jawaban dengan jawaban singkat: Ini semua kehendak Tuhan.