Zarathursta adalah nabi yang membawa kepercayaan atau agama Zorotrianisme. Agama ini adalah agama monoteis, yang meyakini satu Tuhan sebelum ada Kristen dan Islam.

Zoroastrianisme ini menarik dan banyak kesamaan dengan konsep Islam (padahal agama ini ada kira-kira 1300 tahun sebelum Masehi).

Nabi Iran kuno yang bernama Zarathustra ini, (di Persia dikenal sebagai Zartosht dan di Yunani sebagai Zoroaster) hidup antara 1.500 atau 1.300 SM.

Sebelum Zarathustra, orang Persia kuno memuja dewa-dewa dari agama Iran atau kepercayaan Arya lama.  Hal ini pararel dengan agama Indo-Arya baru yang kemudian kenal sebagai Hindu. Namun Zarathustra mengecam praktik pemujaan dewa-dewa ini, dan mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan saja yang disebut sebagai Ahura Mazda, Tuhan Yang Maha Kebijaksanaan.

Pertama, Mari kita lihat lagi tentang konsep kehidupan setelah kematian dari Zorotrianisme.

Zoroastrianisme dari Zarathustra ini meyakini bahwa setelah mati manusia akan masuk kepada masa penghakiman untuk menentukan akan masuk Surga atau Neraka. Untuk inilah di alam ini manusia harus melewati sebuah jembatan untuk menuju ke Surga. Jembatan ini dinamakan jembatan Cinvat.

Jembatan Cinvat ini akan melebar apabila manusia penuh dengan pebuatan baik dan akan makin menyempit apabila manusia penuh dengan perbuatan tidak baik. Apabila manusia tidak berhasil melewati jembatan Cinvat ini maka ia akan jatuh ke Neraka yang penuh dengan api panas membara.

Dalam konsep Islam juga dikenal jembatan rambut dibelah tujuh atau Shiratal Mustaqim yang dibawahnya juga diyakini berisi api panas neraka. Dan mereka yang berhasil melalui Shiratal Mustaqim ini akan dapat masuk ke Surga, dan yang tidak akan jatuh ke Neraka.

Dalam agama Zoroastrianisme juga dikenal tentang hari kebangkitan setelah kiamat di mana semua jiwa-jiwa akan dibangkitkan setelah dunia kiamat. Hari kebangkitan setelah kiamat itu disebut sebagai Frashokeveti. Sementara di dalam Islam, hari kebangkitan ini disebut sebagai Yaumul Ba’as.

Lalu bagaimana dengan konsep Dajjal yang dalam Islam yang nantinya dikabarkan hanya bisa dikalahkan oleh Nabi Isa di akhir jaman? Di dalam agama Zoroastrianisme juga dikenal sosok Dajjal tak terkalahkan yang disebut dengan nama Ahriman. Dan nanti di akhir jaman Ahriman ini hanya bisa dikalahkan oleh Saoshayant.

Menarik bukan? Ternyata agama Zoroastrianisme dari Zarathustra yang diperkirakan berumur 1300 – 1500 tahun sebelum Masehi mempunyai banyak kesamaan konsep keyakinan dengan Islam. Kalau Zoroastrianisme mempunyai Ahriman dan Islam mempunyai Dajjal, maka Marvel juga punya penghancur dunia yang bernama Thanos!

Pertanyaan terbukanya adalah, “Bagaimana apabila ternyata ajaran dalam agama anda hanya meneruskan dari ajaran sebelumnya? Termasuk konsep kehidupan, kematian dan kenabian yang dimodifikasi bahasanya sesuai dengan bahasa setempat?”

Kalau ada yang menjawab, “Tidak bisa! Ajaran agama saya hanya diturunkan oleh Tuhan kepada Nabi agama saya yang sebelumya belum ada yang seperti ini.”

Apa salahnya seorang Nabi mengadopsi pemikiran Nabi sebelumnya? Dan apa salahnya seorang Nabi meminjam sebuah cerita kuno yang kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan cerita dalam budayanya?

Saya kembali kepada agama monoteisme kuno, Zoroastrianisme, yang usianya lebih tua dari Kristen dan Islam.

Cerita kelahiran Zarathursta ini menarik!

Kelahiran Nabi Zarathursta ini di budaya Persia sudah diramalkan dari cerita turun-temurun ratusan tahun sebelumnya, bahwa akan lahir seorang utusan yang akan membawa perubahan yang akan lahir dari perempuan yang masih perawan!

Kemudian perempuan perawan bernama Dughdova mengandung Zarathusta yang kemudian melahirkannya sebagai manusia istimewa. Membaca kisah ini tentu mengingatkan saya akan kelahiran Yesus Kristus – Isa Al masih.

Dalam kitab Arda Viraf (THE BOOK OF ARDA VIRAF) Kitab Suci dari  Zoroastrianisme, juga menuliskan sebuah pengalaman spiritual perjalanan ke Surga dan Neraka yang diantarkan oleh dua malaikat. Di mana dalam perjalanan tersebut diperlihatkan Surga dan Neraka itu seperti apa dan apa saja hukuman yang terjadi di Neraka. Kemudian akhirnya perjalanan tersebut menghadap kepada Ahura Mazda, Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk menerima perintah yang harus disebarkan sekembalinya ke dunia.

Cerita perjalanan ke surga dan neraka tersebut mirip dengan perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad.

Apakah kita akan menolak fakta-fakta sejarah agama kuno seperti ini? Atau justru kita menjadi makin bijaksana dan dapat memilah mana yang budaya dan mana yang agama? Sehingga kita tidak menjadi fanatik buta.