Ruang ini lahir dari kebiasaan memandang apa adanya dari kehidupan: tubuh yang bekerja, otak yang menyala, pikiran yang datang-pergi, dan kesadaran sebagai ruang hadir yang menampung semuanya. Di sini, aku tidak menjanjikan jalan pintas. Tidak ada janji keselamatan setelah kematian, tidak ada peta rahasia menuju takhta kerajaan surga tak kasatmata dan tidak ada tujuan untuk mencapai pencerahan. Yang ada: latihan menatap langsung kehidupan apa adanya tanpa memilih. Menyentuh hidup dari jarak sedekat-dekatnya dengan sejauh napas yang mengalir dan rasa yang bergetar, di sini, sekarang, seperti ini.
Banyak orang mencari “kenyataan tertinggi” atau ‘kebenaran absolut’ seolah-olah ia tinggal di luar diri, jauh, tinggi, misterius. Laku Jiwo menggeser kompas itu. Bukan “di mana kebenaran”, melainkan “bagaimana aku hadir”. Bukan “apa yang harus dipercaya”, melainkan “apa yang sungguh terjadi di dalam diriku ketika percaya, tidak percaya atau ragu”. Dunia itu luas, tetapi seluruh pengalamanku tentang dunia berlangsung di satu tempat yang tak pernah pindah: Yaitu batin yang sedang menyadari. Karena itu aku menempatkan kalimat ini sebagai batu pijak: mind is not in everywhere, but everywhere is in the mind. Bukan berarti alam semesta tersimpan di kepala; maksudku, yang kita sebut “luar” selalu tampil lewat gerbang kesadaran. Tanpa hadir yang menyaksikan, “luar” tak menjadi apa-apa bagiku.
Akan ada yang bertanya: kalau begitu, apa peran otak? Bagiku jelas: Yaitu alat. Panggung. Infrastruktur biologis yang memungkinkan adegan batin terjadi. Tanpa otak, tak ada percakapan batin. Tanpa otak, tak ada hadir yang kusadari. Saat listriknya padam, layar meredup, film berhenti. Sesederhana itu. Di titik ini Laku Jiwo memutuskan bersikap jujur: kisah-kisah tentang perjalanan roh setelah tubuh bubar kupandang sebagai cerita budaya dan hal itu tentu berguna bagi sebagian orang untuk hidup lebih hati-hati, namun hal itu bukan fakta yang bisa kupegang. Maukah kita hidup baik tanpa sandaran hadiah sesudah mati? Pertanyaan itu, bagiku, lebih penting daripada bersilat lidah tentang alam dongeng setelah kematian.
Kau mungkin juga bertanya: kalau roh tidak diakui, apa yang kumaksud “jiwa”? Di buku ini, “jiwa” bukan makhluk halus yang keluar-masuk raga. Jiwa adalah ekologi pengalaman batin: pola rasa, kebiasaan menafsir, nada dasar emosi, cara tubuh menyimpan peristiwa. Ia bisa dirawat karena ia berupa pola, bukan takdir. Menata jiwa berarti membereskan ‘kebun’ di dalam diri: memangkas duri kebiasaan yang menyakiti, menyirami perhatian, memberi cahaya pada kejujuran. Sederhana, namun tak selalu mudah. Ada duri yang kita sayangi karena telah lama menjadi identitas. Ada gulma yang kita pelihara karena membuat kita tampak penting. Apakah berani melepasnya?

