Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo bekerja dengan cara menggeser titik berangkat dalam membaca kitab suci, dari yang awalnya berfokus pada klaim teologis dan metafisik menjadi berfokus pada pengalaman nyata serta kesadaran manusia.
Secara praktis, berikut adalah cara kerja pendekatan ini dalam memahami kitab suci berdasarkan penjelasan metodologinya:
- Mengubah Pertanyaan Utama (Menggeser Titik Berangkat)
Alih-alih memulai dengan pertanyaan teologis konvensional seperti, “Apa yang dimaksud Tuhan melalui ayat ini?”, pendekatan ini mengajukan pertanyaan: “Apa yang sedang terjadi pada manusia ketika ayat ini dibaca?” atau “Pengalaman manusia apa yang sedang dibukakan oleh ayat ini?”. Fokusnya bergeser dari teks yang berdiri sendiri ke ruang perjumpaan antara teks dan kesadaran pembaca.
- Menangguhkan Klaim Metafisik Sementara Waktu
Pendekatan ini tidak dimulai dengan menerima atau menolak keberadaan Tuhan. Seluruh pertanyaan mengenai realitas metafisik (seperti Tuhan, surga, neraka, malaikat, atau klaim gaib lainnya) untuk sementara diletakkan di luar proses pembacaan. Hal ini dilakukan agar teks dapat berdialog secara langsung dengan kesadaran pembaca tanpa terbentur oleh sekat-sekat doktrin atau keyakinan tertentu.
- Memandang Teks sebagai Cermin Diri
Dalam metode ini, kitab suci tidak diperlakukan sebagai kumpulan jawaban mati yang kaku, melainkan sebagai cermin batin. Ketika manusia menafsirkan sebuah ayat, cara ia membaca sebenarnya memantulkan apa yang ia takuti, apa yang ia harapkan, nilai yang dipertahankan, luka yang ia bawa, bahkan kepentingan ego yang bekerja di balik pembacaannya.
- Membaca Bahasa Kitab Suci sebagai Simbol Pengalaman
Bahasa keagamaan dipandang sebagai bahasa simbolik. Simbol tidak dipahami sebatas arti kamus atau harfiahnya saja, melainkan dipahami sebagai petunjuk ke arah pengalaman hidup manusia yang lebih luas. Sebagai contoh:
- “Allah” dibaca sebagai simbol dari realitas itu sendiri atau keseluruhan eksistensi yang melampaui ego manusia.
- “Hari pembalasan” (Yawmid-DÄ«n) dipahami sebagai simbol dari momen ketika setiap tindakan manusia memperlihatkan akibat atau konsekuensinya di dunia.
- Pengalaman Mendahului Konsep
Laku Jiwo memegang prinsip bahwa manusia mengalami kehidupan terlebih dahulu sebelum melahirkan nama atau konsep. Oleh karena itu, sebelum mendefinisikan arti kata di dalam kitab suci, pendekatan ini selalu bertanya: “Pengalaman manusia apa yang sebenarnya sedang disentuh oleh kata-kata tersebut?”.
- Menguji Hasil Pemaknaan Secara Logis dan Etis
Meskipun makna bersifat dinamis dan tidak pernah dianggap final, pemaknaan tidak boleh dilakukan secara liar atau sesuka hati. Setiap tafsir harus tetap diuji dan dipertanggungjawabkan melalui bunyi teks, konteks sejarah, realitas, nalar, dialog, serta tanggung jawab etis terhadap kehidupan sesama.
- Mengukur Keberhasilan dari Transformasi Kesadaran
Keberhasilan pemaknaan tidak diukur dari banyaknya informasi atau indahnya penjelasan, melainkan dari perubahan cara hidup. Indikator bahwa pemaknaan ini bekerja dengan baik adalah ketika pembaca menjadi lebih sadar, lebih jernih melihat diri, lebih rendah hati, lebih bertanggung jawab atas hidupnya, dan lebih mampu mengasihi sesama tanpa harus membenci perbedaan.
Secara keseluruhan, cara kerja ini mengubah pembacaan kitab suci dari sekadar aktivitas menghafal atau berteologi menjadi sebuah peta transformasi kesadaran yang nyata dan berdampak langsung pada perilaku sehari-hari (laku hidup).

