Beberapa waktu terakhir saya memperhatikan nama dr. Ryu Hasan cukup sering muncul dalam percakapan tentang agama, spiritualitas, otak, bahkan keberadaan roh.
Tidak terlalu mengherankan.
Ryu adalah dokter bedah saraf. Cara bicaranya lugas, kadang provokatif, dan ia membawa perspektif biologi serta neurosains ke wilayah yang selama ini lebih banyak dibicarakan oleh agamawan dan praktisi spiritual.
Salah satu pernyataannya yang menarik perhatian saya adalah: “Dalam biologi murni, ruh itu tidak ada.”
Pernyataan tersebut memang terdokumentasi dalam pembicaraannya tentang sains dan spiritualisme, dan juga dikutip dalam artikel akademik yang membahas spiritualitas dari perspektif tasawuf dan neurosains. Dalam pembicaraan yang sama, Ryu juga melihat spiritualitas sebagai hasil kerja otak, meskipun ia tetap mengakui manfaat spiritualitas bagi manusia.
Ada kata dalam pernyataannya yang menurut saya sangat penting, yaitu: “Dalam biologi.”
Kalau yang dimaksud adalah bahwa biologi modern tidak menggunakan roh sebagai entitas untuk menjelaskan bekerjanya organisme, saya tidak mempunyai persoalan dengan itu.
Biologi bekerja dengan sel, jaringan, organ, metabolisme, genetika, sistem saraf, neurotransmiter, dan berbagai proses yang dapat diteliti. Maka, tidak ada variabel bernama “roh” yang diperlukan dalam model tersebut.
Tetapi, pertanyaannya adalah, Apakah “tidak ada dalam penjelasan biologi” sama dengan “tidak ada dalam realitas”?
Belum tentu.
Bayangkan saya mengatakan: “Dalam ilmu ekonomi tidak ada malaikat.”
Pernyataan itu dapat diterima dalam pengertian sederhana, bahwa malaikat memang bukan variabel yang diperlukan untuk menjelaskan inflasi, permintaan, penawaran, atau pertumbuhan ekonomi.
Tetapi apakah dari sana kita dapat mengatakan: “Karena malaikat tidak terdapat dalam ilmu ekonomi, maka malaikat terbukti tidak ada”? Tentu diperlukan argumen tambahan. Nah, hal yang sama berlaku terhadap roh. Namun hal itu juga bukan berarti ada kesimpulan: “Nah, berarti roh ada!” Tidak. Itu lompatan yang sama bermasalahnya.
Biologi tidak menemukan roh bukan bukti bahwa roh ada dan hanya belum ditemukan dalam biologi. Tetapi tidak digunakannya roh dalam penjelasan biologis juga tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa roh tidak ada dalam seluruh realitas.
Kalau seseorang mengklaim roh ada, ia tetap mempunyai pertanyaan yang harus dijawab: Apa yang dimaksud dengan roh? Bagaimana kita mengetahui keberadaannya? Apa yang membuat sebuah pengalaman tertentu ditafsirkan sebagai pengalaman roh? Dan sejauh mana tafsir tersebut dapat berubah menjadi klaim tentang realitas?
Namun ada hal lain yang membuat fenomena Ryu Hasan menarik bagi saya.
Bukan hanya apa yang dikatakannya. Melainkan mengapa perkataannya memperoleh resonansi kuat pada sebagian orang yang skeptis terhadap agama dan spiritualitas.
Saya bisa memahami daya tariknya.
Bayangkan ada seseorang yang sudah lama meragukan konsep roh, mukjizat, atau berbagai klaim keagamaan. Kemudian seorang dokter bedah saraf berbicara mengenai otak dan mengatakan, “Dalam biologi murni, ruh itu tidak ada.”
Ada sesuatu yang terasa melegakan bagi mereka: “Nah, ternyata sains mengatakan begitu.” Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati. Apakah kita menerima sebuah pernyataan karena telah memeriksa argumen dan bukti yang mendasarinya? Ataukah karena pernyataan itu diucapkan oleh seseorang yang mempunyai otoritas ilmiah dan kebetulan sesuai dengan sesuatu yang sudah ingin kita percayai?
Pertanyaan ini bukan hanya untuk ateis atau agnostik. Orang beragama dapat melakukan hal yang sama.
Ketika seorang ilmuwan mengatakan sesuatu yang dianggap sesuai dengan kitab sucinya, potongan videonya segera dibagikan: “Tuh, sains akhirnya membuktikan agama kita!”
Praktisi spiritual juga bisa melakukannya. Ketika istilah seperti energi, frekuensi, vibrasi, atau kuantum digunakan untuk menjelaskan ajarannya, kata “sains” terasa memberi legitimasi tambahan.
Maka persoalannya ternyata bukan agama versus ateisme.
Persoalannya adalah manusia dan kebutuhannya terhadap otoritas yang mengukuhkan apa yang sudah dipercayainya.
- Orang religius bisa berkata: “Kata ustaz saya….”
- Orang spiritual berkata: “Kata guru saya….”
- Lalu apakah orang skeptis juga dapat terjebak pada: “Kata dokter saraf….”?
Kalau iya, otoritasnya memang berubah. Tetapi cara berpikirnya belum tentu berubah.
Tentu gelar dan keahlian penting. Ketika Ryu Hasan menjelaskan otak dan sistem saraf, kompetensinya sangat relevan. Namun keahlian seseorang tidak membuat semua pernyataannya otomatis berubah menjadi kesimpulan ilmiah.
Karena itu, ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada: apakah kita menyukai atau tidak menyukai Ryu Hasan. Ketika seorang ahli berbicara, apakah kita sedang memeriksa pengetahuannya atau menyerahkan proses berpikir kita kepadanya?
Skeptisisme yang sehat seharusnya tidak hanya tajam ketika memeriksa keyakinan orang lain. Ia juga harus berani bekerja terhadap keyakinan sendiri.
Kalau kita bertanya kepada orang beragama, “Apa dasar klaimmu bahwa roh ada?”, kita juga perlu bersedia bertanya, “Apa dasar klaim bahwa roh tidak ada?” Dan kalau jawabannya adalah sains, pertanyaan berikutnya: Apa tepatnya yang sudah ditunjukkan oleh sains, dan sampai sejauh mana temuan itu berhak membawa kita kepada kesimpulan tersebut?
Saya tidak sedang mengajak untuk percaya roh dan saya juga tidak mengajak untuk menyangkal roh.
Saya justru mengajak kita menjaga batas antara apa yang diketahui, apa yang ditafsirkan, dan apa yang kemudian diklaim sebagai realitas.
- Jangan percaya roh ada hanya karena agamawan mengatakannya.
- Jangan pula percaya roh tidak ada hanya karena dokter saraf mengatakannya.
- Bahkan jangan percaya tulisan ini hanya karena Agung Webe menuliskannya.
Periksa klaimnya. Periksa premisnya. Periksa bukti dan batas metodenya.
Bisa jadi, kita belum benar-benar terbebas dari otoritas ketika meninggalkan seorang guru lalu menemukan guru yang lain.
Kita hanya mengganti siapa yang kita percayai.
Dari batas ini kita tahu bahwa ujian sesungguhnya dari sikap kritis bukan seberapa berani kita mempertanyakan keyakinan orang lain, melainkan seberapa berani kita mempertanyakan sesuatu yang telanjur kita sukai dan kita percayai.

