Baru saja saya mendapat sebuah tanggapan yang menarik.
“Kalau karma akibat perbuatan pribadi memang harus diselesaikan sendiri, tetapi orang yang terlahir sukerta tetap membutuhkan ruwatan.”
Saya tidak langsung menjawab bahwa pendapat itu benar ataupun salah. Justru saya melihat ada pertanyaan yang jauh lebih menarik untuk diajukan, yatiu “Mengapa hampir setiap kebudayaan memiliki ritual yang dipercaya dapat mengubah nasib?”
Orang Jawa mengenal ruwatan.
Dalam tradisi Tionghoa terdapat berbagai ritual penolak bala dan pembawa keberuntungan.
Di India berkembang beragam upacara yang dipercaya dapat meredakan pengaruh karma atau posisi planet tertentu.
Di berbagai masyarakat adat, ritual dilakukan untuk mengusir roh jahat, menghindari penyakit, atau membuka jalan kehidupan.
Agama-agama besar pun memiliki ritual yang diyakini membawa perlindungan, keselamatan, atau pengampunan. Tradisinya berbeda. Bahasanya berbeda. Simbolnya berbeda. Namun semuanya tampak menunjuk pada pengalaman manusia yang serupa.
Pertanyaan saya bukan lagi, “Apakah ritual itu benar-benar mengubah nasib?”
Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo justru mengajukan pertanyaan yang berbeda, yaitu “Pengalaman manusia apa yang sedang dibukakan oleh ritual itu?”
Sebab sebelum sebuah ritual dipercaya mampu mengubah nasib, lebih dahulu ada manusia yang mengalami ketakutan. Ada yang merasa hidupnya tidak berjalan baik. Ada yang dihantui rasa bersalah. Ada yang merasa dirinya membawa kesialan sejak lahir. Ada pula yang ingin memulai kehidupan yang baru.
Semua pengalaman itu nyata. Yang belum tentu sama adalah cara setiap kebudayaan memaknainya. Di sinilah makna mulai lahir.
Ruwatan bukan hanya serangkaian tindakan. Ia adalah simbol. Pertanyaannya, simbol dari apa?
Bagi sebagian orang, ruwatan menjadi simbol pembebasan dari nasib buruk. Bagi yang lain, ia menjadi simbol penyucian diri. Ada pula yang melihatnya sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi leluhur. Sebagian lagi memaknainya sebagai peristiwa psikologis yang membantu seseorang berdamai dengan dirinya sendiri.
Ritualnya sama. Maknanya dapat berbeda.
Perbedaan itu muncul karena manusia tidak pernah datang kepada sebuah simbol dalam keadaan kosong. Setiap orang membawa pengalaman hidup, keyakinan, pendidikan, lingkungan budaya, dan harapan yang berbeda. Semua itu ikut hadir ketika ia memaknai sebuah ritual. Makna lahir dari perjumpaan antara simbol dan pengalaman manusia, bukan semata-mata dari simbol itu sendiri.
Karena itu, saya tidak tergesa-gesa bertanya apakah ruwatan memiliki kekuatan objektif mengubah nasib?
Saya lebih tertarik bertanya, “Mengapa manusia memaknai ruwatan sebagai perubahan nasib?”
Pertanyaan ini menggeser seluruh cara membaca. Perhatian kita tidak lagi tertuju pada benar atau salahnya ritual, melainkan pada proses lahirnya makna.
Bayangkan seorang anak yang sejak kecil terus diberi tahu bahwa dirinya adalah anak sukerta dan karena itu akan mengalami banyak kesialan. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan ketakutan. Setiap kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa ramalan itu benar.
Lalu suatu hari ia menjalani ruwatan. Sesudahnya ia merasa tenang. Ia tidak lagi dihantui rasa takut. Ia mulai berani mengambil keputusan. Lebih percaya diri. Lebih optimis menjalani hidup.
- Apa yang sebenarnya berubah?
- Apakah alam semesta berubah?
- Apakah hukum sebab-akibat berubah?
- Ataukah yang berubah adalah cara manusia memaknai dirinya sendiri?
Kalau perubahan itu melahirkan keberanian, tanggung jawab, dan cara hidup yang lebih sehat, maka perubahan tersebut adalah pengalaman manusia yang nyata. Namun kesimpulan bahwa ritual itu sendiri secara objektif mengubah nasib masih merupakan klaim yang memerlukan dasar dan pengujian lebih lanjut.
Di sinilah Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo mengajak kita bersikap rendah hati. Ia tidak terburu-buru menerima. Ia juga tidak terburu-buru menolak. Ia memulai dari pengalaman manusia, lalu bertanya bagaimana makna itu lahir, bagaimana simbol bekerja, dan bagaimana pemaknaan tersebut memengaruhi kehidupan.
Bagi saya, yang paling penting bukanlah apakah seorang sukerta wajib menjalani ruwatan atau tidak. Yang lebih penting adalah pemaknaan seperti apa yang lahir sesudahnya.
Apakah ritual membuat seseorang semakin bergantung kepada ketakutan sehingga terus mencari ritual berikutnya? Ataukah ia justru menjadi lebih berani, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab menjalani hidupnya?
Ukuran sebuah pemaknaan bukan terletak pada seberapa sakral ritualnya. Ukuran itu tampak pada manusia yang lahir sesudah ritual tersebut.
Apabila ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih sadar, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan lebih manusiawi, maka ritual telah melahirkan transformasi. Namun apabila ia tetap hidup dalam ketakutan dan ketergantungan, yang perlu ditinjau ulang bukan ritualnya terlebih dahulu, melainkan cara kita memaknainya.
Maka saya menggeser pertanyaan dari, “Apakah ritual dapat mengubah nasib?”
Menjadi;
“Bagaimana manusia membangun makna sehingga sebuah ritual dipercaya mampu mengubah nasib, dan manusia seperti apa yang akhirnya lahir dari pemaknaan tersebut?”
Â
LAKU JIWO

