Saya menulis lagi tentang Ryu Hasan karena melihat sebuah statusnya yang ramai diperbincangkan. Ia menulis, “Kalau ada manusia di jaman batu bisa pergi ke langit, ini sebenarnya bukan keajaiban. Yang ajaib itu kalau ada orang yang percaya omong kosong macam ini.”
Saya membaca kalimat itu beberapa kali. Saya tidak sedang ingin membuktikan bahwa manusia pada masa lalu benar-benar pernah pergi ke langit. Saya justru tertarik pada dua kata yang digunakan Ryu: “omong kosong.”
Pertanyaan saya sederhana. Kapan sebuah klaim layak disebut omong kosong? Apakah ketika sains belum dapat menjelaskannya? Ketika tidak tersedia bukti yang memadai? Ketika bertentangan dengan pengetahuan yang kita miliki? Ataukah ketika sesuatu telah terbukti mustahil terjadi? Sekilas terdengar sama, padahal tidak.
Di sinilah menurut saya diskusinya menjadi lebih menarik daripada sekadar pertengkaran antara orang yang percaya mukjizat dan mereka yang tidak mempercayainya. Sains bekerja dengan bukti, pengamatan, pengujian, dan keterbukaan terhadap koreksi. Sebuah klaim tidak otomatis diterima sebagai pengetahuan ilmiah hanya karena seseorang mempercayainya.
Kalau seseorang mengatakan manusia pernah melakukan perjalanan yang melampaui kemampuan biologis dan teknologi pada zamannya, kita berhak bertanya: apa buktinya? Dari mana informasi itu diperoleh? Seberapa dapat diandalkan sumbernya? Apakah ada cara lain untuk memeriksa klaim tersebut? Kepercayaan tidak membebaskan seseorang dari pertanyaan. Mengatakan, “Itu mukjizat,” juga tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah peristiwa benar-benar terjadi.
Tetapi persoalannya juga berlaku dari arah sebaliknya. Tidak adanya bukti yang cukup untuk menerima sebuah klaim tidak otomatis sama dengan bukti bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi.
Misalnya manusia menemukan sebuah spesies baru di kedalaman laut. Sebelum ditemukan, kita tidak mempunyai bukti keberadaannya. Apakah berarti sebelum penemuan tersebut ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa spesies itu tidak ada? Tidak. Kita hanya belum mengetahui keberadaannya.
Tentu contoh ini tidak dapat begitu saja disamakan dengan klaim mukjizat. Spesies laut berada dalam wilayah yang secara prinsip dapat diperiksa secara empiris, sementara klaim mukjizat membawa persoalan yang jauh lebih rumit. Namun contoh tersebut menunjukkan sesuatu yang sederhana: “belum terbukti ada” berbeda dengan “terbukti tidak ada”. Kebalikannya juga berlaku. “Belum terbukti tidak ada” bukan berarti “pasti ada”.
Di antara keduanya ada posisi yang sering terasa tidak nyaman bagi manusia: saya belum tahu. Entah mengapa kita sering kesulitan tinggal di sana. Kita ingin segera memilih: benar atau salah, ada atau tidak ada, fakta atau omong kosong. Padahal salah satu bentuk kedewasaan dalam membangun pengetahuan justru kemampuan mengetahui batas dari apa yang kita ketahui.
Di sinilah status Ryu Hasan menarik untuk dibicarakan. Ryu adalah seorang dokter bedah saraf. Ketika berbicara mengenai otak, sistem saraf, atau proses biologis manusia, latar belakang keilmuannya tentu relevan. Tetapi gelar akademik tidak membuat setiap kalimat yang keluar dari seseorang otomatis menjadi kesimpulan ilmiah.
Ketika seorang dokter saraf mengatakan sebuah cerita adalah “omong kosong”, saya justru ingin bertanya: apakah “omong kosong” merupakan hasil pengujian ilmiah? Apakah itu kesimpulan filosofis yang dibangun berdasarkan pengetahuan ilmiah? Ataukah itu penilaian pribadi seseorang yang kebetulan berprofesi sebagai dokter saraf? Ketiganya berbeda. Dan perbedaan itu penting.
Sebab ada kecenderungan menarik dalam cara manusia memperlakukan otoritas. Bagian ini saya copas dari artikel saya sebelumnya: Orang beragama dapat berkata, “Kata guru agama saya….” Praktisi spiritual dapat berkata, “Kata guru spiritual saya….” Lalu orang yang skeptis terhadap agama pun bukan berarti otomatis terbebas dari kecenderungan yang sama. Ia juga dapat berkata, “Kata ilmuwan….” atau “Kata dokter saraf….”
Tentu tidak berarti semua orang yang menyukai pemikiran Ryu Hasan melakukan itu. Bisa jadi mereka memang telah memeriksa argumentasinya dan menemukan banyak penjelasannya masuk akal. Tetapi justru karena kita mengaku berpikir kritis, ada pertanyaan yang layak diarahkan kepada diri sendiri: apakah saya menerima sebuah pernyataan karena argumentasi dan buktinya memang kuat, atau karena orang yang mengatakannya mempunyai otoritas dan kebetulan kesimpulannya sesuai dengan apa yang sudah ingin saya percayai?
Pertanyaan yang sama harus diberikan kepada semua pihak. Ketika seorang ilmuwan mengatakan sesuatu yang dianggap mendukung agama, orang beragama bisa dengan cepat membagikannya: “Lihat, sains akhirnya membuktikan ajaran kita.” Ketika istilah energi, frekuensi, vibrasi, atau kuantum terdengar mendukung suatu praktik spiritual, sebagian orang segera menggunakannya sebagai legitimasi ilmiah. Dan ketika seorang dokter saraf menyebut sebuah klaim keagamaan sebagai omong kosong, sebagian orang skeptis mungkin merasakan hal serupa: “Nah, sains ternyata berpihak kepada apa yang selama ini saya pikirkan.”
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sains bukan stempel untuk memenangkan keyakinan kita. Kekuatan sains justru terletak pada metodologinya. Sebuah pernyataan dapat diperiksa, diuji, dikritik, dan jika bukti yang lebih baik ditemukan, pemahaman sebelumnya dapat dikoreksi.
Karena itu, menjadi ilmiah bukan sekadar menggunakan kata “sains”. Menjadi ilmiah juga bukan sekadar mengutip ilmuwan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh dan sejauh mana bukti memungkinkan kita menarik kesimpulan tersebut.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa perjalanan manusia ke langit pada masa lalu benar-benar pernah terjadi. Saya tidak tahu. Dan karena saya tidak tahu, saya tidak mempunyai alasan untuk mengubah ketidaktahuan saya menjadi keyakinan bahwa peristiwa tersebut pasti terjadi. Tetapi saya juga perlu berhati-hati agar tidak mengubah ketidaktahuan menjadi kepastian dari arah sebaliknya.
“Saya belum mempunyai alasan yang cukup untuk mempercayainya” berbeda dengan “saya tahu itu tidak pernah terjadi.” Jarak antara dua kalimat itu sangat tipis dalam percakapan sehari-hari, tetapi sangat jauh dalam cara membangun pengetahuan.
Maka persoalannya bukan apakah kita harus percaya mukjizat. Persoalannya juga bukan apakah kita harus percaya Ryu Hasan. Persoalannya adalah apakah kita bersedia memberikan pertanyaan yang sama kepada setiap klaim, termasuk klaim yang sesuai dengan keyakinan kita sendiri.
Jangan percaya sebuah cerita hanya karena orang suci mengatakannya. Jangan menolaknya hanya karena seorang dokter saraf menertawakannya. Bahkan jangan percaya tulisan ini hanya karena saya yang menuliskannya. Periksa klaimnya, periksa sumbernya, periksa buktinya, periksa bagaimana kesimpulannya dibangun. Dan yang sering kali jauh lebih sulit adalah: periksa juga keinginan kita sendiri untuk mempercayainya.
Sebab berpikir kritis bukan keberanian untuk mempertanyakan apa yang dipercaya orang lain. Berpikir kritis dimulai ketika kita berani memberikan pertanyaan yang sama kepada sesuatu yang sudah telanjur kita anggap benar.

