Apa Itu The Laku Jiwo Project?

Ada banyak cara manusia mencari jawaban tentang kehidupan. Kita membaca buku, mempelajari agama, mengikuti filsafat, mendengarkan pengalaman orang lain, meneliti sejarah, bahkan mencoba memahami apa yang terjadi di dalam diri sendiri.

Namun ada persoalan yang sering luput dari perhatian.

Bagaimana kita sampai pada sebuah pemahaman?

Sebuah pengalaman terjadi. Kita merasakan sesuatu, mengingat pengalaman lama, menghubungkannya dengan pengetahuan yang dimiliki, lalu membentuk tafsir. Tafsir itu perlahan dapat berubah menjadi keyakinan, cara memandang dunia, bahkan dasar dalam mengambil keputusan.

  • Tetapi apakah setiap pemahaman yang terbentuk otomatis dapat dipercaya?
  • Apakah sesuatu benar hanya karena terasa benar?
  • Apakah pengalaman pribadi cukup untuk menjadi bukti?
  • Bagaimana kita membedakan realitas dengan tafsir kita tentang realitas?
  • Dan apa yang terjadi ketika pemahaman yang keliru dijadikan dasar untuk memperlakukan diri sendiri, orang lain, bahkan sebuah masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi medan The Laku Jiwo Project.

Sebuah Proyek Pemikiran

The Laku Jiwo Project adalah proyek pemikiran: usaha intelektual yang dilakukan secara sadar, sistematis, terbuka, dan berkelanjutan untuk memahami bagaimana manusia membangun pemahaman terhadap kehidupan.

Perhatiannya tidak hanya tertuju pada apa yang dipikirkan manusia, tetapi juga bagaimana sebuah pemahaman lahir, bagaimana ia diuji, serta bagaimana pemahaman tersebut akhirnya memengaruhi cara hidup.

Setiap gagasan dalam proyek ini tidak diperlakukan sebagai kesimpulan yang kebal terhadap koreksi. Sebuah konsep dapat diperiksa kembali. Tafsir dapat diperdebatkan. Metode dapat diuji. Rumusan dapat diperbaiki apabila pengalaman, penelitian, dialog, atau pengetahuan baru memperlihatkan keterbatasannya.

Keterbukaan seperti ini bukan berarti semua pendapat dianggap sama benarnya.

Sebuah pemahaman tetap harus mampu mempertanggungjawabkan hubungannya dengan realitas, bukti yang tersedia, nalar, konteks, dialog, pengetahuan yang relevan, serta konsekuensi etis yang ditimbulkannya.

The Laku Jiwo Project tidak mencari kepastian dengan menutup pertanyaan. Ia justru menjaga agar pertanyaan tetap dapat diperiksa dengan jernih.

Apa yang Dikaji?

The Laku Jiwo Project tidak dibatasi oleh satu disiplin ilmu tertentu.

Objek perhatiannya adalah proses manusia membangun pemahaman ketika berhadapan dengan realitas.

Medannya dapat berupa pengalaman pribadi, kesadaran dan pemaknaan, bahasa dan teks, simbol dan budaya, tradisi keagamaan, naskah kebijaksanaan, organisasi, kehidupan sosial, hingga berbagai persoalan sehari-hari.

Itulah sebabnya satu kerangka pemikiran dapat digunakan untuk membicarakan pengalaman kehilangan, membaca sebuah kitab suci, meneliti manuskrip Nusantara, memahami Pancasila, melihat dinamika organisasi, memeriksa relasi antarmanusia, atau menelaah bagaimana sebuah keyakinan terbentuk.

Medannya berbeda.

Pertanyaan dasarnya tetap berhubungan:

Apa yang sedang terjadi? Bagaimana manusia memahaminya? Seberapa andal pemahaman itu? Dan apa akibatnya ketika pemahaman tersebut dihidupi?

Satu Bangunan, Beberapa Lapisan

The Laku Jiwo Project mempunyai arsitektur konseptual.

Komponen-komponennya tidak berdiri sebagai gagasan yang terpisah, melainkan menjalankan fungsi yang berbeda di dalam satu bangunan:

  1. DNA Filsafat Laku Jiwo menjadi fondasi filosofisnya.
  2. Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo memberikan orientasi epistemologis, terutama disiplin untuk tidak menjadikan klaim metafisik sebagai titik awal pemahaman.
  3. Metodologi Berpikir Laku Jiwo menyediakan proses operasional untuk membangun dan menguji pemahaman.
  4. Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo merupakan salah satu bentuk penerapan metodologi tersebut ketika manusia berhadapan dengan teks, simbol, tradisi, peristiwa, dan ekspresi yang membutuhkan penafsiran.

Dari fondasi yang sama dapat lahir berbagai penerapan lain dalam filsafat, kebudayaan, pendidikan, organisasi, kepemimpinan, penelitian manuskrip, kehidupan sosial, dan bidang-bidang yang masih terus dikembangkan. Monograf menegaskan bahwa DNA memberi fondasi, Cara Berpikir memberi orientasi, Metodologi memberi proses, sedangkan Hermeneutika menunjukkan salah satu bentuk penerapan.

Maka Hermeneutika Non-Theistik bukan keseluruhan The Laku Jiwo Project.

Ia adalah salah satu cabangnya.

Dari Realitas Kembali kepada Kehidupan

Seluruh bangunan tersebut bergerak melalui sebuah alur dasar:

REALITAS

PENGALAMAN YANG DISADARI

TAFSIR SEMENTARA

PENGUJIAN KETERANDALAN

MAKNA YANG BERTANGGUNG JAWAB

TRANSFORMASI KESADARAN

PANDANGAN HIDUP

LAKU HIDUP

PENGALAMAN BARU

Alur ini memperlihatkan satu prinsip penting: pengalaman tidak langsung menjadi kebenaran.

Manusia mengalami sesuatu terlebih dahulu. Pengalaman itu dihadiri dan mulai ditafsirkan. Tafsir yang muncul masih bersifat sementara sehingga perlu diuji. Dari pengujian itulah dapat disusun makna yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika sebuah makna sungguh dipahami, ia dapat mengubah cara seseorang melihat kehidupan. Perubahan tersebut perlahan membentuk pandangan hidup dan menemukan wujudnya dalam laku.

Laku kemudian mempertemukan manusia dengan pengalaman baru.

Proses memahami dimulai kembali.

Tidak ada titik tempat seseorang dapat berkata, “Sekarang aku telah memahami kehidupan seluruhnya.”

Mengapa Disebut “Project”?

Kata project dipilih dengan sengaja.

Bukan karena Laku Jiwo belum memiliki fondasi filosofis. Justru The Laku Jiwo Project telah mempunyai DNA filsafat, posisi epistemologis, metodologi, sistem konsep, teori pemaknaan, hermeneutika, orientasi etis, serta berbagai wilayah penerapan.

Kata project menjelaskan cara seluruh bangunan tersebut dikembangkan.

Memahami kehidupan bukan pekerjaan yang pernah benar-benar selesai. Pengalaman manusia terus bertambah. Pengetahuan berkembang. Teknologi mengubah kehidupan. Persoalan sosial mengambil bentuk baru. Penelitian dapat membongkar asumsi lama. Perjumpaan dengan perspektif berbeda mampu memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.

Maka sebuah pemikiran perlu mempunyai keberanian untuk belajar kembali.

Dalam pengertian The Laku Jiwo Project, proyek bukan pekerjaan sementara yang menunggu tanggal selesai. Ia merupakan komitmen intelektual untuk terus meneliti, menguji, mengembangkan, dan memperbaiki cara memahami kehidupan.

Itulah pula alasan nama The Laku Jiwo Project dipilih, bukan sekadar Laku Jiwo Philosophy. Kata project tidak menggantikan filsafat. Ia menegaskan bahwa fondasi filosofis Laku Jiwo tetap terbuka untuk diuji, diperkaya, serta dikembangkan melalui penelitian dan dialog yang berkelanjutan.

Apa yang Dikembangkan?

The Laku Jiwo Project menjadi payung bagi berbagai pekerjaan intelektual dan penerapan.

Di dalamnya berkembang Filsafat Laku Jiwo, Cara Berpikir Non-Theistik, Metodologi Berpikir Laku Jiwo, Hermeneutika Non-Theistik, penelitian manuskrip dan naskah kebijaksanaan, buku, artikel, publikasi, pendidikan, dialog, seminar, serta berbagai bentuk penerapan dalam kehidupan.

Kamus Filsafat Laku Jiwo berfungsi menjaga konsistensi konsep yang digunakan dalam seluruh karya tersebut. Setiap karya dapat memperluas penerapannya sesuai medan pembahasan, tetapi tetap berpijak pada fondasi konseptual yang sama.

Bidang pengembangannya tidak dibuat sebagai daftar tertutup. Pertanyaan baru dapat membuka penelitian baru. Realitas baru dapat menuntut pendekatan baru.

Yang dijaga bukan bentuk akhirnya, melainkan kejernihan cara berpikir dan tanggung jawab dalam membangun pemahaman.

Bukan Ajaran yang Menunggu Pengikut

The Laku Jiwo Project tidak dibangun untuk menciptakan kelompok manusia yang memiliki kesimpulan sama.

Ia bukan agama baru. Bukan sistem kepercayaan. Bukan terapi psikologis. Bukan pula spiritualitas baru yang menawarkan keselamatan, pencerahan khusus, energi metafisik, vibrasi, atau jalan menuju realitas gaib. Filsafat Laku Jiwo sendiri memiliki objek kajian, metode, posisi epistemologis dan ontologis, hermeneutika, teori kebenaran, dasar etika, serta sistem konsep yang membuatnya bergerak sebagai filsafat, bukan kumpulan renungan atau doktrin yang harus ditaati.

Orang tidak diminta menjadi “pengikut Laku Jiwo”.

Yang ditawarkan adalah sebuah ruang untuk belajar memeriksa bagaimana kita memahami kehidupan.

Sebab manusia tidak hidup hanya dari apa yang terjadi kepadanya. Kita hidup melalui makna yang kita bangun tentang apa yang terjadi. Dan ketika makna itu menjadi dasar tindakan, kualitas cara kita memahami bukan lagi urusan pikiran semata. Ia menyentuh relasi, keputusan, kebudayaan, organisasi, kehidupan bersama, dan manusia yang terkena akibatnya.

The Laku Jiwo Project hadir di wilayah itu:

Mempelajari bagaimana pemahaman dibangun, mengujinya dengan bertanggung jawab, lalu melihat apa yang terjadi ketika pemahaman tersebut benar-benar menjadi laku hidup.

Ia bukan jawaban terakhir.

Ia adalah pekerjaan memahami yang terus berlangsung.

Klik di sini untuk APA ITU LAKU JIWO?

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Posts