Manusia mengalami begitu banyak hal sepanjang hidupnya.
Kita jatuh cinta, kehilangan, gagal, berhasil, kecewa, takut, marah, merasa diterima, ditolak, dicintai, dikhianati, memperoleh sesuatu yang lama diinginkan, lalu pada waktu lain kehilangan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan akan pergi.
Tetapi banyaknya pengalaman tidak dengan sendirinya membuat seseorang memahami kehidupan.
Dua orang dapat menghadapi peristiwa yang hampir sama dan membawa pulang pemahaman yang berbeda. Seseorang dapat mengalami kegagalan berulang kali tetapi tetap mengulangi pola yang sama. Orang lain mungkin mengalami satu peristiwa yang sederhana, lalu dari sana cara pandangnya terhadap kehidupan berubah.
Apa yang membedakan keduanya?
Pertanyaan semacam itulah yang menjadi salah satu pintu masuk Laku Jiwo.
Laku Jiwo adalah filsafat yang mempelajari bagaimana manusia mengalami kehidupan, menyadari pengalaman tersebut, membangun pemaknaan, menguji pemahamannya, lalu menerjemahkannya menjadi cara hidup.
Objek kajiannya bukan sekadar apa yang terjadi kepada manusia. Perhatian diarahkan pada proses yang berlangsung antara pengalaman dan tindakan: bagaimana tafsir muncul, bagaimana rasa ikut bekerja, bagaimana makna terbentuk, bagaimana sebuah pemahaman dinilai cukup dapat dipercaya, serta bagaimana makna tersebut akhirnya memengaruhi keputusan dan laku hidup.
Pengalaman Tidak Otomatis Menjadi Kebijaksanaan
Kita sering mendengar ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Laku Jiwo memberi catatan penting terhadap kalimat itu. Tidak semua pengalaman mengajar.
Pengalaman dapat berlalu sebagai kejadian biasa. Ia dapat berubah menjadi luka yang terus dibawa. Ia bisa menjadi kenangan, kebanggaan, ketakutan, dendam, bahkan cerita yang diulang bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar dipahami.
Pengalaman mulai memiliki kemungkinan untuk menjadi sumber pemahaman ketika dihadiri secara sadar.
Kamu tidak hanya berkata, “Aku marah.”
Kamu mulai melihat: apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kurasakan? Apa yang sedang dipertahankan oleh pikiranku? Mengapa tubuhku bereaksi seperti ini? Apakah aku sedang menanggapi kejadian hari ini, atau luka lama ikut berbicara? Tafsir apa yang sedang kubangun?
Dalam Kamus Filsafat Laku Jiwo, pengalaman yang disadari dirumuskan sebagai pengalaman yang dihadiri secara reflektif sehingga dapat menjadi sumber lahirnya pemaknaan. Ia menjadi titik berangkat epistemologis Laku Jiwo.
Pengalaman dihormati. Tetapi pengalaman tidak langsung dinobatkan sebagai kebenaran.
Dari Pengalaman Menuju Pemaknaan
Bayangkan seseorang tidak diajak masuk dalam sebuah pertemuan.
Peristiwanya sederhana: namanya tidak tercantum dalam undangan.
Beberapa kemungkinan segera dapat muncul.
“Aku sengaja disingkirkan.”
“Mereka tidak menghargai aku.”
“Mungkin mereka lupa.”
“Barangkali pertemuan itu memang bukan bidangku.”
“Sebaiknya aku bertanya terlebih dahulu.”
Kenyataannya baru satu: ia tidak menerima undangan.
Sisanya adalah tafsir.
Persoalan manusia sering muncul ketika batas antara keduanya menjadi kabur. Apa yang kita pikirkan tentang kenyataan terasa sama nyatanya dengan kenyataan itu sendiri.
Laku Jiwo mengajak manusia melihat jarak tersebut.
Rasa didengarkan, tetapi tidak langsung dijadikan putusan. Tafsir diakui, tetapi diperlakukan sementara. Pemaknaan dibangun, namun tetap harus berhadapan dengan realitas.
Di situlah proses memahami menjadi sebuah disiplin.
Makna Tidak Boleh Dibuat Sesuka Hati
Laku Jiwo mengakui bahwa manusia terlibat dalam pembentukan makna.
Kita membawa bahasa, pendidikan, budaya, sejarah hidup, ingatan, kepentingan, luka, harapan, dan berbagai keyakinan ketika memahami sesuatu.
Akan tetapi, keterlibatan manusia bukan berarti realitas dapat dibentuk sesuka pikiran.
Posisi filosofis Laku Jiwo adalah realis secara ontologis dan rendah hati secara epistemologis: realitas tidak bergantung sepenuhnya pada pikiran manusia, sementara pemahaman manusia terhadap realitas selalu terbatas, perspektival, dan terbuka terhadap koreksi.
Maka Laku Jiwo tidak berhenti pada kalimat:
“Ini benar bagiku.”
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Seberapa dapat diandalkan pemahaman itu?
Pemahaman perlu berhadapan dengan realitas, bukti yang tersedia, nalar, konteks, dialog, pengetahuan yang relevan, dan akibat etisnya.
Laku Jiwo berusaha menjaga jarak dari dua ujung sekaligus.
Yang pertama adalah dogmatisme: keyakinan bahwa sebuah kesimpulan sudah final dan tidak boleh dikoreksi.
Yang kedua adalah relativisme: anggapan bahwa semua tafsir sama benarnya hanya karena setiap orang mempunyai pengalaman berbeda.
Keterbukaan bukan berarti kehilangan ukuran.
Mengapa Non-Theistik?
Salah satu ciri penting Laku Jiwo adalah posisi non-theistik.
Non-theistik dalam Laku Jiwo bukan pernyataan bahwa Tuhan tidak ada. Ia juga bukan nama lain bagi ateisme.
Yang dilakukan adalah menangguhkan klaim metafisik sebagai titik berangkat memahami.
Ketika seseorang gagal, misalnya, Laku Jiwo tidak segera menyimpulkan:
“Ini hukuman Tuhan.”
“Semesta sedang mengajariku.”
“Ini karma.”
“Aturannya memang sudah ditakdirkan.”
Pernyataan seperti itu dapat hidup sebagai keyakinan personal seseorang. Laku Jiwo tidak berkepentingan melarangnya.
Tetapi ketika kita sedang membangun pemahaman yang ingin dapat diperiksa bersama, prosesnya dimulai dari sesuatu yang lebih dekat:
- Apa yang terjadi?
- Apa yang dapat diketahui?
- Apa yang sedang dialami?
- Tafsir apa yang muncul?
- Apa bukti yang mendukungnya?
- Adakah penjelasan lain?
Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo memang dirumuskan sebagai kerangka epistemologis yang menangguhkan klaim metafisik sebagai titik berangkat dan memulai proses memahami dari pengalaman yang disadari.
Dari Makna Menuju Laku
Laku Jiwo tidak berhenti ketika manusia berhasil memperoleh penjelasan yang terasa masuk akal.
Ada pertanyaan berikutnya:
Apa yang terjadi ketika pemahaman ini kuhidupi?
Sebab sebuah makna mempunyai akibat.
Jika seseorang memaknai kritik sebagai penghinaan, caranya merespons orang akan berbeda dari seseorang yang melihat kritik sebagai kemungkinan untuk memeriksa dirinya.
Jika hidup dimaknai sebagai perlombaan, orang lain mudah berubah menjadi pesaing.
Jika perbedaan selalu dimaknai sebagai ancaman, dialog menjadi sulit.
Makna lambat laun menyusun cara manusia melihat dunia. Dari sana terbentuk pandangan hidup. Pandangan hidup kemudian menemukan bentuk konkretnya dalam tindakan sehari-hari.
Itulah laku hidup.
Monograf merumuskan geraknya secara ringkas:
REALITAS
↓
PENGALAMAN YANG DISADARI
↓
TAFSIR SEMENTARA
↓
PENGUJIAN KETERANDALAN
↓
MAKNA YANG BERTANGGUNG JAWAB
↓
TRANSFORMASI KESADARAN
↓
PANDANGAN HIDUP
↓
LAKU HIDUP
↓
PENGALAMAN BARU
Gerak itu membuat Laku Jiwo selalu kembali kepada kehidupan.
Mengapa Disebut Filsafat Laku Jiwo?
Laku Jiwo tidak disebut filsafat hanya karena menggunakan kata seperti realitas, kesadaran, makna, ego, atau kebenaran.
Ia disebut filsafat karena mempunyai pertanyaan filosofis, objek kajian, posisi epistemologis dan ontologis, metodologi berpikir, teori pemaknaan, teori kebenaran, hermeneutika, dasar etika, sistem konsep, serta keterbukaan terhadap kritik.
Pertanyaannya menyentuh persoalan-persoalan mendasar:
- Bagaimana manusia mengetahui sesuatu?
- Apa hubungan pengalaman dengan realitas?
- Kapan sebuah tafsir dapat dipercaya?
- Dari mana makna lahir?
- Apakah rasa dapat menjadi kebenaran?
- Bagaimana kita bertindak ketika tidak memulai etika dari perintah metafisik?
- Bagaimana pemahaman berubah menjadi cara hidup?
Pertanyaan tersebut menempatkan Laku Jiwo pada wilayah filsafat, bukan sekadar pengembangan diri atau refleksi batin.
Laku Jiwo Bukan Ajaran yang Harus Dipercaya
Laku Jiwo tidak meminta seseorang menerima doktrin tertentu.
Tidak ada keharusan menjadi “orang Laku Jiwo”.
Tidak ada figur yang harus ditaati agar seseorang dianggap memahami Laku Jiwo.
Ia bukan agama, bukan psikologi klinis, bukan metode meditasi, dan bukan sistem moral yang menyediakan daftar perilaku benar dan salah.
Laku Jiwo juga tidak menawarkan jalan menuju Tuhan, penyatuan dengan semesta, kenaikan level kesadaran, energi metafisik, vibrasi, manifestasi, keselamatan, ataupun pencerahan sebagai status khusus. Pengalaman batin tetap dapat dikaji, tetapi tidak otomatis dijadikan bukti bahwa seseorang telah bersentuhan dengan realitas metafisik tertentu.
Yang ditawarkan adalah cara memahami.
- Hadir terhadap pengalaman.
- Mengenali rasa.
- Melihat tafsir yang sedang terbentuk.
- Menguji pemahaman.
- Berdialog.
- Memperhatikan akibatnya.
- Lalu melihat apakah pemahaman tersebut sungguh mengubah cara hidup.
Laku Adalah Tempat Filsafat Diuji
Kata laku bukan hiasan pada nama Laku Jiwo.
Justru di sanalah seluruh proses memperoleh pengujiannya yang paling konkret.
Seseorang dapat berbicara panjang tentang dialog, tetapi bagaimana ia bersikap ketika pendapatnya ditolak?
- Ia dapat memahami konsep ego, tetapi apa yang terjadi ketika dirinya dikritik?
- Ia bisa menjelaskan tanggung jawab etis, tetapi bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak mempunyai kuasa untuk memberinya keuntungan?
- Ia mungkin mengerti konsep kesadaran, tetapi apakah pemahaman itu terlihat ketika ia marah, bekerja, mengambil keputusan, meminta maaf, mencintai, kehilangan, atau berhadapan dengan orang yang berbeda?
Laku hidup dalam filsafat Laku Jiwo adalah perwujudan nyata dari pandangan hidup dalam tindakan sehari-hari. Pemahaman yang matang tidak cukup terdengar bagus; ia perlu menjejak pada cara manusia hadir di dunia.
Maka pertanyaan Laku Jiwo pada akhirnya bukan hanya:
“Apa yang kamu pahami?”
Ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan:
“Akan menjadi manusia seperti apa kamu apabila pemahaman itu benar-benar kamu hidupi?”
Itulah Laku Jiwo.
Dari pengalaman menuju pemahaman.
Dari pemahaman menuju makna.
Dari makna menuju cara melihat.
Dan dari cara melihat menuju laku hidup.

