Mengapa Tuhan Dianggap Ada?

Membedakan Pengalaman, Tafsir, dan Klaim tentang Tuhan

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia selamat dari sebuah peristiwa yang nyaris merenggut hidupnya. Ia berkata, “Tuhan masih melindungi saya.”

Saya tidak mengatakan ia salah. Ia memang mengalami sesuatu. Ia selamat. Ketakutan yang dirasakannya nyata. Kelegaan setelah mengetahui dirinya masih hidup juga nyata.

Tetapi ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.

“Saya selamat” adalah peristiwa yang dialami.

Sedangkan:

“Tuhan menyelamatkan saya” adalah tafsir terhadap peristiwa tersebut.

Dua hal ini sering kita campurkan seolah-olah keduanya sama. Padahal di antara sebuah pengalaman dan kesimpulan tentang pengalaman itu terdapat proses yang sangat penting: penafsiran.

Manusia mengalami sesuatu, kemudian berusaha memahami apa yang terjadi. Dalam proses itulah pengalaman diberi nama, dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya, ditempatkan dalam kerangka keyakinan tertentu, lalu memperoleh makna.

Seseorang yang beragama mungkin mengalami kesembuhan dari penyakit lalu berkata, “Tuhan menyembuhkan saya.” Orang lain mengalami kesembuhan yang sama dan berkata, “Pengobatannya berhasil.” Yang lain mungkin berkata, “Tubuh saya merespons pengobatan dengan baik.”

Peristiwanya dapat serupa. Pemaknaannya belum tentu sama. Lalu bagaimana dengan Tuhan? Di sinilah pertanyaannya menjadi menarik.

Manusia sejak ribuan tahun lalu berhadapan dengan kematian, kelahiran, bencana, keteraturan alam, mimpi, ketakutan, penderitaan, keberuntungan, rasa takjub, serta berbagai pengalaman batin yang sulit dijelaskan.

Berbagai kebudayaan kemudian membangun bahasa dan konsep untuk memaknai pengalaman-pengalaman tersebut. Salah satu konsep terbesar yang lahir dalam sejarah manusia adalah Tuhan.

Namun mengatakan bahwa konsep tentang Tuhan dibangun manusia tidak otomatis berarti Tuhan tidak ada. Ini perlu dibedakan.

Kata dan konsep “Tuhan” jelas berada dalam bahasa manusia. Manusia membicarakannya, mendefinisikannya, memberinya sifat, menulis kitab tentangnya, membangun teologi, bahkan berdebat mengenai kehendaknya.

Tetapi apakah konsep tersebut menunjuk kepada suatu realitas yang sungguh ada di luar manusia? Itu pertanyaan lain.

Di sinilah kita memasuki wilayah klaim.

Ketika seseorang mengatakan: “Tuhan ada.”

Ia tidak lagi sekadar menceritakan pengalaman. Ia sedang membuat klaim tentang realitas.

Menariknya, ketika seseorang mengatakan: “Tuhan tidak ada.”

Ia juga sedang membuat klaim tentang realitas.

Karena itu, Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo tidak tergesa-gesa memilih salah satunya sebagai titik keberangkatan. Ia tidak mengatakan: “Saya mengalami sesuatu yang luar biasa, maka Tuhan pasti ada.”

Tetapi juga tidak melompat: “Saya tidak menemukan bukti tentang Tuhan, maka Tuhan pasti tidak ada.”

Keduanya perlu diperiksa. Pertanyaan yang saya ajukan justru lebih awal: Bagaimana manusia sampai kepada kesimpulan bahwa sesuatu yang dialaminya adalah Tuhan?

Misalnya seseorang berdoa ketika anaknya sakit. Beberapa hari kemudian anaknya sembuh. Pengalamannya nyata. Doanya benar-benar dilakukan. Kesembuhan anaknya juga terjadi. Tetapi ketika ia mengatakan, “Doa saya dikabulkan Tuhan,” kita telah memasuki wilayah pemaknaan. Apakah pemaknaan itu salah? Belum tentu.

Apakah pengalaman tersebut dengan sendirinya membuktikan keberadaan Tuhan? Belum tentu juga. Di sinilah kerendahan hati dalam berpikir diperlukan.

Kita boleh memiliki keyakinan. Kita boleh membangun makna dari pengalaman. Namun kita juga perlu mampu membedakan apa yang kita alami, bagaimana kita menafsirkannya, dan klaim apa yang kemudian kita bangun dari tafsir tersebut.

Sebab ketiganya bukan hal yang sama.

Mungkin selama ini kita terlalu cepat bertanya: “Apakah Tuhan ada?” Padahal sebelum sampai ke sana, ada pertanyaan yang lebih dekat dengan pengalaman manusia: “Bagaimana manusia sampai pada kesimpulan bahwa sesuatu yang dialaminya adalah Tuhan?”

Di antara pengalaman dan kesimpulan terdapat tafsir. Dan ketika tafsir berubah menjadi pernyataan tentang realitas, ia menjadi klaim.

Menyadari perbedaan itu tidak membuat seseorang harus kehilangan Tuhan. Tidak pula membuat seseorang harus menjadi ateis. Ia hanya mengajak kita lebih jujur mengenali batas antara apa yang kita alami, apa yang kita maknai, dan apa yang kita klaim sebagai kenyataan.

Kedewasaan berpikir memang dimulai dari sana, yaitu ketika kita mulai mampu membedakan mana pengalaman, mana tafsir, dan mana klaim yang kita bangun darinya.

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Posts