Apa yang Dimaksud dengan DNA Filsafat?
Setiap sistem pemikiran memiliki fondasi yang menjadi titik berangkat seluruh bangunan pemikirannya. Dalam matematika terdapat aksioma, dalam logika terdapat prinsip-prinsip dasar, dan dalam filsafat terdapat asumsi-asumsi pertama yang menopang seluruh proses penalaran.
Demikian pula Laku Jiwo.
DNA Filsafat Laku Jiwo bukanlah kumpulan doktrin yang harus dipercayai, melainkan asumsi dasar filosofis yang menjadi dasar bagi seluruh cara berpikir, metodologi, dan penerapan Laku Jiwo. Asumsi dasar filosofis ini tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan akhir tentang segala sesuatu. Sebaliknya, ia menjadi titik berangkat yang membuat seluruh proses pemahaman memiliki arah dan konsistensi.
Dari DNA inilah lahir Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo, Metodologi Berpikir Laku Jiwo, Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo, hingga berbagai penerapannya dalam membaca teks, simbol, pengalaman, dan kehidupan.
Enam DNA Filsafat Laku Jiwo
-
Realitas Tidak Bergantung Sepenuhnya pada Pikiran Manusia
Laku Jiwo mengakui bahwa manusia hidup di dalam realitas yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh keinginan, keyakinan, ataupun pikirannya. Tubuh, alam, waktu, orang lain, sejarah, dan akibat dari tindakan memiliki keberadaannya sendiri.
Namun manusia tidak pernah menjumpai realitas secara langsung dari posisi yang sepenuhnya netral. Ia selalu berjumpa dengan realitas melalui pengalaman, bahasa, tubuh, budaya, pengetahuan, dan sejarah hidupnya.
Laku Jiwo berpijak pada realisme ontologis dan kerendahan hati epistemologis: realitas ada, tetapi pemahaman manusia terhadapnya selalu terbatas dan terbuka terhadap koreksi.
-
Manusia Memahami Melalui Pengalaman yang Disadari
Pengalaman merupakan titik temu pertama antara manusia dan realitas.
Segala konsep, teori, keyakinan, dan pengetahuan, lahir untuk memberi makna terhadap pengalaman yang telah lebih dahulu dialami.
Namun pengalaman bukanlah bukti final. Pengalaman perlu dihadiri secara reflektif, dibedakan dari rasa, tafsir, dan keyakinan, lalu diperiksa secara bertanggung jawab.
-
Kesadaran Penafsir Selalu Terlibat dalam Pemahaman
Tidak ada manusia yang memahami sesuatu tanpa membawa dirinya sendiri.
Bahasa, budaya, pendidikan, pengalaman hidup, ingatan, harapan, ketakutan, dan berbagai bentuk prasangka selalu ikut hadir dalam proses memahami.
Karena itu, memahami realitas juga berarti menyadari keterlibatan diri sendiri dalam lahirnya pemahaman.
-
Makna Lahir secara Relasional
Makna tidak sepenuhnya berada di dalam objek, teks, atau simbol.
Makna juga tidak diciptakan secara bebas oleh pembaca.
Makna lahir dari perjumpaan antara manusia dan realitas melalui pengalaman, bahasa, simbol, konteks, dialog, dan pengetahuan. Makna selalu bersifat relasional: terbuka untuk dipahami dari berbagai sudut pandang, tetapi tidak tanpa batas.
-
Tafsir Bukan Realitas
Setiap pemahaman manusia merupakan tafsir terhadap realitas, bukan realitas itu sendiri.
Tafsir diperlukan agar manusia dapat memberi arti pada pengalaman, tetapi tafsir tidak boleh disamakan dengan kenyataan.
Membedakan antara realitas dan tafsir menjaga manusia dari kecenderungan mengubah dugaan menjadi kepastian, atau keyakinan menjadi fakta.
-
Pemahaman Selalu Terbuka terhadap Koreksi
Tidak ada pemahaman manusia yang selesai untuk selamanya.
Pengalaman baru, bukti baru, dialog, penelitian, maupun refleksi dapat memperdalam, memperbaiki, atau bahkan mengoreksi pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya.
Keterbukaan terhadap koreksi bukan tanda kelemahan, melainkan konsekuensi dari kerendahan hati epistemologis.
Keenam DNA ini bukanlah metodologi, bukan pula langkah-langkah praktis dalam memahami sesuatu. DNA Filsafat Laku Jiwo merupakan fondasi yang memberi arah bagi seluruh bangunan pemikirannya.
Dari fondasi inilah lahir Cara Berpikir Non-Theistik Laku Jiwo sebagai sikap epistemologis, Metodologi Berpikir Laku Jiwo sebagai kerangka operasional, Hermeneutika Non-Theistik Laku Jiwo sebagai penerapan dalam membaca teks dan simbol, serta berbagai pengembangannya dalam memahami kehidupan.


