Beberapa hari lalu saya membuat sosial experience dengan posting status non-theistik dengan kalimat bahwa hidup bisa dijalani tanpa konsep agama dan konsep Tuhan. Kemudian hampir semua komen nadanya menyalahkan, ada yang menghujat bahwa ini jalan yang salah. Bahkan ada yang vulgar melabeli atheis sesat!
Saya kemudian melihat hal-hal sebaliknya, bahwa dakwah-dakwah agama dan keyakinan bertuhan sangat banyak di media sosial, namun jarang saya temukan ada paham atheis, agnostik atau non-theistik yang berkomentar bahwa berkeyakinan dengan Tuhan itu salah.
Di titik itu saya merenung sejenak. Bukan untuk membalas komentar. Bukan untuk berdebat. Saya justru ingin memahami: apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah ini sekadar perbedaan keyakinan, atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar soal Tuhan?
Pelan-pelan saya menyadari bahwa yang muncul di kolom komentar bukanlah debat teologis. Itu adalah fenomena sosial.
Kita sering mengira agama hanya urusan iman pribadi. Padahal dalam realitas sehari-hari, agama jauh lebih dari sekadar sistem kepercayaan. Ia adalah identitas. Ia melekat pada keluarga, lingkungan, sejarah hidup, bahkan rasa aman seseorang. Ketika seseorang mengatakan hidup bisa dijalani tanpa konsep Tuhan, sebagian orang tidak mendengarnya sebagai pengalaman personal. Mereka mendengarnya sebagai ancaman terhadap sesuatu yang selama ini menopang dirinya.
Di sinilah reaksi emosional mulai masuk.
Manusia secara alami menjaga identitas kelompoknya. Ketika sebuah pandangan berbeda muncul di ruang publik, otak sosial kita bekerja cepat. Ada dorongan untuk meluruskan, mengingatkan, atau bahkan menyerang. Bukan selalu karena kebencian, tetapi karena mekanisme perlindungan. Seolah ada alarm yang berbunyi bahwa sesuatu yang penting sedang diganggu.
Menariknya, fenomena ini tidak simetris.
Posting religius hampir tidak pernah diserbu oleh orang non-theistik. Mengapa? Karena bagi banyak orang yang tidak beragama atau tidak bertuhan, keyakinan orang lain tidak mengancam identitas mereka. Tidak ada kewajiban eksistensial untuk mengoreksi. Tidak ada rasa bahwa dunia akan runtuh jika orang lain percaya adanya Tuhan.
Sebaliknya, dalam banyak tradisi beragama, ada nilai moral untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Maka komentar keras sering muncul bukan sebagai kebencian pribadi, melainkan sebagai tindakan yang dianggap kebaikan. Ironisnya, niat menjaga kebenaran sering tampil sebagai penolakan terhadap perbedaan.
Ternyata media sosial memperbesar semua ini.
Algoritma tidak menyukai ketenangan. Ia menyukai emosi. Konten yang memicu reaksi kuat akan lebih sering muncul, lebih banyak dikomentari, dan akhirnya menciptakan ilusi bahwa konflik jauh lebih besar daripada kenyataannya. Satu komentar keras memancing sepuluh komentar lain. Lalu ruang diskusi berubah menjadi arena pembuktian identitas.
Saya mulai melihat sesuatu yang menarik, yaitu yang diperdebatkan bukan lagi Tuhan, melainkan rasa aman.
Ketika seseorang berkata hidup bisa bermakna tanpa Tuhan, sebagian orang merasakan kegelisahan yang sulit diakui. Jika hidup memang bisa dijalani tanpa konsep yang selama ini dianggap mutlak, maka muncul pertanyaan, “apakah selama ini saya membutuhkan sesuatu yang sebenarnya tidak wajib ada?” Pertanyaan seperti itu tidak nyaman. Dan manusia jarang menyerang pertanyaannya. Yang diserang biasanya orang yang memicunya.
Di titik itu saya memahami bahwa komentar-komentar keras bukan selalu tanda kebencian. Kadang itu tanda ketakutan yang tidak disadari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa agama di ruang publik sering berfungsi sebagai perekat sosial. Ia menjaga batas antara “kita” dan “yang berbeda”. Ketika batas itu terasa kabur, respons kolektif muncul untuk menegaskannya kembali. Bukan karena semua orang ingin berkonflik, tetapi karena manusia membutuhkan kepastian tentang di mana ia berdiri.
Namun pengalaman kecil ini juga memberi pelajaran lain.
Kesadaran non-theistik ternyata bukan posisi melawan agama. Ia hanya posisi yang tidak menjadikan konsep apa pun sebagai sandaran mutlak. Hidup tetap berjalan. Moralitas tetap ada. Makna tetap bisa lahir dari pengalaman langsung, relasi, dan kehadiran.
Dan mungkin justru di situlah kegelisahan muncul. Karena jika makna tidak lagi bergantung pada satu konsep tertentu, maka tanggung jawab kembali sepenuhnya kepada diri sendiri.
Saya tidak melihat eksperimen kecil ini sebagai kemenangan argumen atau kekalahan pihak lain. Ia hanya membuka satu kenyataan sederhana, bahwa perdebatan tentang Tuhan sering kali bukan tentang Tuhan itu sendiri.
Ia tentang manusia. Tentang rasa takut kehilangan pegangan. Tentang kebutuhan untuk merasa benar bersama kelompoknya. Dan tentang betapa sulitnya menerima bahwa orang lain bisa berjalan di jalan yang berbeda tanpa harus dianggap tersesat.
Salam damai

